Mengenal Pukat Harimau dan Dampak Buruknya Bagi Ekosistem Laut

Pukat harimau alat penangkap ikan yang dilarang untuk digunakan. (Foter)

Editor: Arif Sodhiq - Sabtu, 15 Januari 2022 | 20:00 WIB

Sariagri - Penggunaan pukat harimau sebagai alat tangkap ikan sudah lama dilarang. Puluhan tahun lalu alat ini telah banyak menimbulkan kerusakan ekosistem laut dan butuh waktu lama untuk memulihkannya.

Sejak tahun 1980 pukat harimau telah dilarang penggunaannya melalui Kepres No. 93/1980. Namun kenyataannya, alat ini masih sering digunakan kapal ikan besar untuk meraup keuntungan sesaat tanpa memikirkan dampak ke depannya.

Pukat harimau atau trawl merupakan alat tangkap ikan berupa kantong jaring besar berbentuk kerucut yang ditarik dari dalam laut oleh satu atau dua kapal pukat.

Ada dua cara menggunakan pukat harimau dalam pengoperasiannya yaitu pukat yang digunakan di dasar perairan (bottom trawl) dan di tengah kolom air (midwater trawl).

Penggunaan alat ini tampak sangat mudah dan cepat menghasilkan ikan dan udang dalam jumlah banyak. Namun dampaknya juga tidak main-main, karena jaring yang digunakan memiliki lubang berukuran kecil, sehingga bukan hanya ikan besar, tetapi ikan kecil dan hewan lain yang bukan targetnya (bycatch) ikut terjaring.

Dampak pukat harimau

Pukat harimau yang dioperasikan di dasar laut dapat menimbulkan kerusakan lebih parah. Selain merusak terumbu karang juga dapat menimbulkan kekeruhan di dasar perairan laut.

Selain itu, hewan yang tidak boleh ditangkap seperti lumba-lumba dan penyu akan ikut terjaring. Tidak jarang hewan air itu ditemukan dalam kondisi mati karena tertumpuk bersama ikan lainnya.

Pukat harimau dianggap lebih banyak menghancurkan ekosistem laut dibanding hasil tangkapan ikannya. Alat ini dapat mengancam kelangsungan hidup ikan di laut dengan membunuh ikan kecil, telur dan menghancurkan habitatnya.

Sedimen laut yang teraduk-aduk jaring dapat mengubah kandungan kimia dan menaikan kekeruhan air, sehingga cahaya menjadi terbatas dan tanaman air tidak bisa berfotosintesis. Akibatnya produsen utama ekosistem laut ini menjadi terganggu dan berdampak pada ketersediaan ikan di kemudian hari.

Salah satu tanda adanya degradasi alam akibat penggunaan pukat harimau adalah semakin kecilnya ukuran ikan yang ditangkap dan jumlahnya semakin berkurang.

Dampak lain penggunaan pukat harimau bukan hanya kerusakan lingkungan laut, namun berdampak pada kehidupan sosial nelayan setempat. Sumber daya ikan yang habis dikeruk menggunakan pukat harimau dapat memicu terjadinya konflik horizontal antar nelayan lokal.

Selain pukat harimau ada beberapa jenis pukat yang sistem pengoperasiannya berbeda. Beberapa diantaranya juga dapat menimbulkan dampak kerusakan besar seperti pukat harimau. Namun ada juga yang dampaknya masih tergolong minim.

Pukat cincin

Pukat cincin atau purse seine dalam bahasa Inggris merupakan jenis pukat yang dilengkapi tali dibagian bawahnya. Tali itu bisa ditarik untuk merapatkan sisi bawah jaring sehigga ikan tidak dapat keluar. Target utama alat tangkap ini adalah jenis ikan yang hidupya bergerombol seperti ikan sarden dan tuna.

Namun penggunaan pukat cincin juga menimbulkan dampak negatif karena sering menangkap ikan bukan target dan memberi tekanan besar terhadap populasi ikan. Di beberapa negara, penggunaan alat tangkap ini diatur dengan cermat.

Pukat lampara

Pukat ini tergolong sederhana, dioperasikan di laut dengan menggunakan perahu atau kapal. Tali sisi bawah biasanya lebih pendek sehingga jaring akan membentuk lengkungan setengah mangkuk dan menyulitkan ikan untuk keluar.

Lampara dilengkapi dua sayap di sisi kiri dan kanan, sementara bagian belakang terdapat mesh kecil untuk menampung ikan tangkapan. Pukat jenis ini biasanya digunakan untuk menangkap ikan pelagis seperti ikan sarden dan ikan teri.

Pukat dogol

Pukat ini hampir mirip dengan pukat harimau yang dioperasikan di dasar perairan. Bedanya, pukat dogol tidak ditarik kecuali sepanjang tali utamanya. Target utamanya adalah ikan demersal dan ikan yang hidup di dasar air.

Baca Juga: Mengenal Pukat Harimau dan Dampak Buruknya Bagi Ekosistem Laut
PT Timah Bantu Alat Tangkap Ikan untuk Nelayan di Belitung Timur

Pukat payang

Payang adalah jenis pukat yang dilengkapi dengan pelampung pada sisi atas jaring supaya tetap berada di permukaan. Payang paling banyak digunakan oleh nelayan-nelayan di Indonesia dengan menggunakan perahu payang. Target dari alat tangkap ini adalah ikan-ikan pelagis kecil.

Pukat pantai

Seperti namanya pukat pantai (beach seine) dioperasikan dengan menebar jaring di muka pantai menggunakan bantuan perahu. Setelah jaring dilingkarkan pada sasaran, kemudian kedua tali pukat di satukan dan ditarik menyusuri dasar perairan hingga  ke tepi pantai oleh tenaga manusia.

Video:

Video Terkait