Ratusan Nelayan Geruduk PN Lhokseumawe, Ada Apa?

Kuasa hukum Nazaruddin Rajali. (Antara)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 14 Januari 2022 | 17:55 WIB

Sariagri - Seorang nelayan di Lhokseumawe, Aceh, Nazaruddin Razali (59 tahun) mengajukan permohonan suntik mati atau eutanasia. Sidang permohonan tersebut digelar di PN Lhokseumawe, pada Kamis (13/1/2022).

Seratusan nelayan karamba di Waduk Pusong turut hadir mengikuti jalannya persidangan. Petugas kepolisian mengamankan lokasi persidangan. Persidangan dalam agenda pembacaan permohonan suntik mati dengan hakim tunggal Budi Sunanda.

Nazaruddin melalui kuasa hukumnya Muhammad Zubir mengatakan, permohonan suntik mati dilakukan karena kliennya merasa tertekan akibat kebijakan Pemkot Lhokseumawe merelokasi Waduk Pusong yang merupakan mata pencarian sehari-hari para nelayan.

"Sejak dibangun waduk itu, klien kami sebagai nelayan keramba jaring apung tradisional di lokasi tersebut hingga saat ini. Para nelayan ini menguntungkan hidup dari penghasilan keramba di dalam waduk," katanya, melansir Antara, Jumat (14/1/2022).

Terkait waduk sudah tercemar limbah mercuri, Zubir mengatakan, bahwa hingga saat ini tidak ada bukti otentik bahwa Waduk Pusong telah tercemar limbah.

"Hasil investigasi kami dan data dari dinas terkait bahwa tidak ditemukan bukti otentik waduk tersebut tercemar limbah yang membahayakan," katanya.

Kliennya dan para nelayan mulai resah dengan kebijakan Camat Banda Sakti yang melibatkan TNI dan Polri untuk melakukan pemaksaan agar nelayan bersedia atau menyetujui kebijakan relokasi tersebut.

Baca Juga: Ratusan Nelayan Geruduk PN Lhokseumawe, Ada Apa?
PT Timah Bantu Alat Tangkap Ikan untuk Nelayan di Belitung Timur

"Masyarakat kini mulai tertekan dengan kebijakan tersebut, sehingga klien kami memutuskan untuk mengajukan permohonan suntik mati," katanya.

Hakim menutup sidang setelah mendengarkan permohonan suntik mati dan akan dilanjutkan dengan agenda menghadirkan saksi dan bukti-bukti.

Video Terkait