Program Kurator Hayati Rekam 8.600 Ribu Data Keanekaragaman Hayati Laut

Ilsutrasi keanekaragaman hayati bawah laut. (Pixabay)

Editor: M Kautsar - Senin, 27 Juni 2022 | 15:10 WIB

Sariagri - Sebanyak 5.000 data spesies keanekaragaman hayati lautan berhasil dikumpulkan melalui kegiatan Kurator Hayati yang dikelola oleh “Komite Indeks Biodiversitas Indonesia -Konsorsium Biologi Indonesia (IBI-KOBI)” dalam Program Studi/ Proyek Independen - Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang berlangsung pada Maret-Mei 2022.

Ketua KOBI, Prof. Budi S. Daryono, mengatakan program kurator hayati telah berjalan sejak tahun 2021 lalu. Pada batch 1 (November 2020-Januari 2022) dan batch 2 (Oktober-Desember 2021) berhasil terkumpul sebanyak 3.600 data keanekaragaman hayati di daratan Indonesia. Lalu, pada batch 3 (Maret-Mesi 2022) terkumpul 5.000 data keanekaragaman hayati di lautan nusantara.

“Jadi, total sampai sekarang ada 8.600 jenis keanekaragaman hayati daratan dan lautan Indonesia yang sudah terkumpul dalam big data IBI,” kata Budi, dikutip dari laman resmi UGM, Senin (27/6/2022).

Program kurator hayati batch tiga kali ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki fakultas atau program studi bidang biologi, kehutanan, dan perikanan. Kegiatan kurator hayati ini mendukung upaya dalam membangun indikator dalam mengukur status dan tren keanekaragaman hayati Indonesia. Beberapa diantaranya indikator keragaman spesies, kemelimpahan populasi, laju kepunahan local, serta karbon stok dari biomass.

“Database IBI ini akan digunakan sebagai dasar untuk memberikan masukan terkait putusan dan kebijakan yang tepat bagi pemerintah untuk pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.

Baca Juga: Program Kurator Hayati Rekam 8.600 Ribu Data Keanekaragaman Hayati Laut
Masuk ke Peternakan Salmon, Singa Laut Berpesta Ikan

Beberapa kegunaan data sains yang dihasilkan antara lain mengukur kinerja keanekaragaman hayati oleh daerah, pengelolaan konsensi berupa kebun, hutan tanaman industri, dan hak pengusahaan hutan. Lalu, pengelolaan oleh masyarakat dan unit ekologi seperti ecoregion dan daerah aliran sungai.

“Data ini penting, karena tidak bisa membangun sesuatu dengan pasti tanpa ada dukungan data sehingga kita fokus untuk membenahi dan mengelola data biodiversitas Indonesia,” ucapnya.

Video Terkait