Rugi Milliaran Rupiah, Pengusaha Ikan Koi Ngamuk di Kantor BWS NTB

Pengusaha Ikan Koi melempar ikan ke Kantor BWS NTB karena kesal. (Sariagri/Yongki)

Editor: Dera - Sabtu, 25 Juni 2022 | 12:00 WIB

Sariagri - Sariagri - Seorang pengusaha ikan Koi bernama Ni Kadek Sri Dewy Danayanti, warga Desa Mambalan, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat mengamuk di Kantor Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sembari memegang satu kantung plastik berisikan ikan koi, Dewy memaksa masuk ke dalam Kantor BWS NTB I, namun karena tidak diizinkan, ia pun harus meluapkan kekesalannya di depan pintu masuk dengan melempar ikan koi yang dibawanya. 

Dewy mengaku kesal karena dampak dari pengerjaan proyek strategis Nasional bendungan Meninting di Desa Bukit Tinggi Lombok Barat membuat air sungai meluap hingga menyebabkan sejumlah kolam ikan koi miliknya hanyut.

"Kalian (BWS NTB I) mudah saja berstatemen bahwa tidak ada dampaknya, sementara saya ini rugi, liat saja dampaknya," Cetusnya di Depan Kantor BWS NTB I, Jumat (25/6). 

Menurutnya, banjir yang terjadi pada akhir pekan lalu membuat Kolam ikan koi miliknya menjadi keruh berbau bahkan bercampur dengan lumpur akibat dari luapan air. Di mana ribuan ikan koi yang siap panen dan akan dikirim ke luar daerah hanyut terbawa arus. 

Kondisi ini membuatnya rugi hingga Rp1,5 miliar lebih. Dewy mengatakan kerugian ini merupakan estimasi dari jumlah ikan koi yang dipelihara di atas lahannya seluas 1 hektare lebih termasuk kerugian lain, seperti kerusakan fasilitas di sekitar tempat usahanya.

Dewy menganggap sebelumnya tidak pernah terjadi banjir hingga membuat air sungai meluap ke permukiman warga, namun semenjak ada pembangunan bendungan, luapan air kerap kali terjadi, bahkan tidak sedikit dampak kerusakan yang dialami oleh warga yang berada di sepanjang depan dan sungai. 

"Selama pembangunan ini belum beroperasi tidak pernah ada yang seperti ini, sementara banjir ini sudah dua kali terjadi," imbuhnya. 

Selain meminta BWS NTB turun mengecek dampak luapan air sungai, ia juga meminta pertanggung jawaban pemerintah untuk memberikan solusi akan dampak yang dialami, terlebih modal usaha yang ia gunakan diperoleh dari hasil pinjaman. "Ini saya bangun sudah ngutang, bukan uang saya sendiri," katanya. 

Sementara itu, Abdul Hanan selaku Humas BWS NTB I menjelaskan pengerjaan bendungan bukan menjadi penyebab terjadinya luapan air, namun karena meningkatnya volume air dari hulu yang tidak bisa dibendung karena bangunan bendungan belum jadi. 

"Ini sebenarnya bukan disebabkan karena bendungan, karena pengerjaan bendungan baru mencapai 30 persen, kita belum membuat penampung air karena pengerjaan baru mencapai proses pengerukan," katanya

Baca Juga: Rugi Milliaran Rupiah, Pengusaha Ikan Koi Ngamuk di Kantor BWS NTB
Wow! Warga Cirebon Bisa Raup Rp300 Juta per Bulan dengan Budidaya Ikan Koi

Pihaknya mengatakan peristiwa ini murni akibat bencana alam, dan dampaknya tidak saja membuat sejumlah permukiman warga tergenang, namun juga membuat pengerjaan bendungan tertunda dan sejumlah peralatan proyek rusak diterjang banjir.

"Ini murni bencana alam, dan semua terdampak oleh bencana banjir ini termasuk kami, beberapa alat kami juga ikut terendam," ujar Abdul Hanan.

Video Terkait