Akibat Cuaca Ekstrem, Nelayan di Cianjur Alih Profesi Jadi Buruh Tani

Kapal Nelayan. (Antara)

Editor: M Kautsar - Kamis, 9 Juni 2022 | 19:10 WIB

Sariagri - Seribuan nelayan di pantai selatan Cianjur, Jawa Barat, membatasi kegiatan melaut karena cuaca ekstrem dan hanya mencari ikan di pinggiran pantai agar tetap mendapat penghasilan.

Ketua Himpunan Nelayan Pantai Selatan Cianjur,Agus Bambang Irawan saat dihubungi di Cianjur, Jabar, Kamis, mengatakan cuaca ekstrem disertai gelombang tinggi masih kerap terjadi di sepanjang pantai, sehingga rawan terjadi kecelakaan laut terutama saat berangkat melaut.

"Ini sudah berlangsung lebih dari lima bulan terakhir, sehingga kami mengimbau semua nelayan untuk ekstra hati-hati dan waspada saat berangkat melaut, bahkan kami meminta agar tidak dulu melaut untuk sementara sampai cuaca kembali bersahabat," katanya.

Selama cuaca ekstrem, sebagian besar nelayan yang ada di pantai selatan Cianjur, memilih alih profesi sebagai buruh tani atau buruh serabutan agar tetap memiliki penghasilan atau mencari ikan di pinggir pantai meski hasilnya tidak terlalu menjanjikan.

Nelayan yang terpaksa melaut tidak berani sampai ke tengah karena gelombang tinggi, sehingga beresiko terhadap keselamatan jiwa.

"Kami berharap cuaca kembali bersahabat agar nelayan dapat kembali melaut, kami juga berharap ada bantuan khusus untuk nelayan dari pemerintah," katanya.

Sekretaris BPBD Cianjur Rudi Wibowo mengatakan berdasarkan prakiraan cuaca yang diterima dari BMKG, cuaca ekstrem masih melanda hingga akhir Juni, terutama di pantai selatan Cianjur, sehingga pihaknya melalui pihak terkait meminta agar nelayan tidak dulu melaut untuk sementara.

Baca Juga: Akibat Cuaca Ekstrem, Nelayan di Cianjur Alih Profesi Jadi Buruh Tani
Menkeu Klaim 50 Persen Petani Terima Bantuan Sosial



"Kami sudah mengimbau nelayan melalui ketua kelompok, aparat kecamatan dan polsek setempat, agar tidak dulu melaut karena cuaca ekstrem serta gelombang tinggi masih rawan terjadi di sepanjang pantai selatan Jabar termasuk Cianjur," katanya.

Pihaknya mencatat sepanjang tahun 2022 mendapat lima laporan terkait nelayan hilang dihempas gelombang tinggi, tiga orang ditemukan meninggal dunia, dua orang di antaranya nelayan asal Sukabumi.

Video Terkait