KKP Dukung Konservasi Alam Melalui Budidaya Ikan Hias Nemo

Ilustrasi ikan hias nemo. (Dok. KKP)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 27 Mei 2022 | 15:40 WIB

Sariagri - Ikan Nemo, atau yang biasa dikenal di Indonesia sebagai ikan badut memang sangat menggemaskan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta ikan hias. Ikan nemo menjadi salah satu primadona ikan hias air laut yang saat ini telah dikembangkan di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono telah menyampaikan bahwa komoditas ikan hias menjadi salah satu andalan Indonesia dalam menopang perekonomian masyarakat.

Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung telah lama melaksanakan budidaya ikan nemo hingga mendistribusikan bantuan kepada para pembudidaya ikan hias. Pada tahun 2022, kegiatan prioritas BBPBL Lampung, salah satunya memberikan bantuan yang disalurkan kepada masyarakat pembudidaya, sementara target budidaya ikan nemo yang di BBPBL Lampung sebanyak 30.000 ekor.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu mengatakan budidaya ikan hias laut telah berkembang secara pesat. Perkembangan ini terutama pada teknologi pembenihan dan pembesaran beberapa jenis ikan hias laut. Sentra-sentra budidaya ikan hias laut ini juga telah berkembang di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) yang berada di Lampung, Lombok, Ambon, dan Bali.

“Guna meminimalisir ikan hias hasil tangkapan alam, DJPB melalui BBPBL Lampung telah lama mengembangkan teknologi terapan budidaya nemo, mulai dari teknologi penjodohan, teknologi pengelolaan induk, teknologi pemeliharaan larva, hingga teknologi pendederan dan pembesaran ikan nemo,” kata Dirjen yang biasa disapa Tebe.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung, Mulyanto mengatakan BBPBL Lampung telah lama membudidayakan ikan hias laut nemo. Pada tahun 2022 pihaknya mengaku menargetkan produksi ikan nemo sebanyak 30.000 ekor. “Tahun 2022, kami memiliki target produksi 30.000 ekor ikan nemo, 20.000 ekornya kami akan distribusikan langsung sebagai bantuan kepada para pembudidaya dan mendukung konservasi alam,” ujar Mulyanto.

Sementara itu, menurutnya kegiatan budidaya ikan nemo yang dilakukan di BBPBL Lampung menggunakan sistem Resirculating Aquaculture System (RAS). Mulyanto menerangkan bahwa prinsip dasar RAS yaitu memanfaatkan air media pemeliharaan secara berulang-ulang dengan mengendalikan beberapa indikator kualitas air agar tetap pada kondisi prima.

Mulyanto mengatakan teknologi RAS budidaya ikan hias laut di BBPBL Lampung memiliki beberapa keunggulan antara lain, mampu mempertahankan kualitas air dengan baik, menghemat penggunaan air, meningkatkan tingkat Survival Rate (SR), meningkatkan performa ikan nemo, dan dapat diusahakan pada lahan yang terbatas. “Satu ekor induk biasanya menghasilkan 300 sampai 600 butir telur,” tukas Mulyanto.

Mulyanto memaparkan dalam sebulan BBPBL Lampung bisa memproduksi 3.000 ekor ikan hias nemo. Dan sebagian besar benih ikan kami distribusikan ke para pembudidaya, dan ada juga yang kami berikan ke tempat konservasi alam untuk menjaga habitat ikan nemo di alam.

Sebagai informasi BBPBL Lampung berhasil mengembangkan 10 jenis ikan nemo antara lain, Amphiprion ocellaris, picasso, platinum, snow flake, Amphiprion percula, Amphiprion clarky, tompel, Premnas bioculatus, premium lightingg maroon, dan lighting maroon.

Sementara itu, salah satu penerima bantuan ikan nemo tahun 2022, dari Kelompok konservasi Alam Bawah Laut, Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, Arif mengaku mendapat bantuan 2.000 ekor benih ikan nemo dari BBPBL Lampung.

Baca Juga: KKP Dukung Konservasi Alam Melalui Budidaya Ikan Hias Nemo
Demi Perluas Pasar Eropa, KKP Pamerkan Ikan Hias di Ajang Internasional

Dia mengatakan mendapatkan bantuan benih ikan nemo untuk kegiatan konservasi alam di Carita, Banten. Menurutnya bantuan benih yang diberikan ke BBPBL Lampung sangat baik, dirinya saat ini sedang melakukan pembesaran dan mencocokan dengan anemon untuk kemudian dilepas liarkan di Carita. “Kami biasa membutuhkan waktu sekitar 4 bulan sebelum kembali melepas liarkan ikan nemo dan anemon ke pantai,” kata Arif.

Dia mengaku memang tidak menjual ikan bantuan yang diberikan oleh BBPBL Lampung, namun dirinya berniat untuk mengembalikan Pantai Carita agar dipenuhi ikan hias laut dan koral dengan harapan banyak pengunjung yang datang berwisata ke Pantai Carita. “Kalau pantainya kembali alami, pasti akan banyak wisatawan yang akan datang, dan itu juga akan memberikan pemasukan bagi pada masyarakat sekitar lokasi konservasi,” tukas Arif.

Video Terkait