Mengenal Udang Barong, Komoditas Ekspor yang Punya Nilai Jual Tinggi

Ilustrasi udang barong atau lobster (Pixabay)

Editor: Tanti Malasari - Jumat, 13 Mei 2022 | 20:20 WIB

Sariagri - Udang barong disebut juga dengan lobster. Udang ini merupakan komoditas ekspor dari Indonesia yang bernilai jual tinggi.

Namun sebenarnya lobster sendiri merupakan nama dagangnya yang populer. Namun udang barong biasanya diekspor dalam bentuk udang yang sudah terkupas.

Udang ini termasuk dalam filum Arthropoda, subfilum Crustacea, kelas Malacotraca, ordo Decapoda, family Nephropidae. Ia memiliki kulit yang keras dan bermacam warna, seperti misalnya cokelat, cokelat kemerahan, hijau, dan hitam kebiruan, dengan bintik-bintik putih, merah, atau cokelat.

Spesifikasi dan Morfologi Udang Barong

Dilansir dari laman Kementerian Kelautan dan Perikanan, udang barong hidup di air laut dan bisa dengan mudah ditemukan pada hamparan pasir yang terdapat spot-spot karang dengan kedalaman antara 5-100 meter.

Ia bersifat nokturnal (aktif pada malam hari) dan melakukan proses pergantian kulit. Jika dilihat secara morfologi, lobster ini memiliki tubuh yang beruas-ruas.

Tubuh udang ini terdiri atas dua bagian utama, yaitu cephalotorax atau bagian kepala dan abdomen atau bagian badan.

Bagian depan (kepala dan dada) terdiri atas tiga belas ruas dan bagian badan terdiri atas enam ruas. Pada bagian kepala (rostrum) terdapat organ- organ seperti rahang (mandibula), insang, mata majemuk, antenulla, antenna, dan lima pasang kaki jalan (pereiopoda).

Pada bagian badan terdapat lima pasang kaki renang (pleopoda) dan sirip ekor (uropoda). Ukuran tubuh udang ini jauh lebih besar dibandingkan dengan udang pada umumnya. Bahkan beratnya bisa mencapai 2 kg.

Lobster bersifat nocturnal yaitu melakukan aktifitas mencari makan pada malam hari. Mereka akan aktif mencari makan pada malam hari.

Sementara saat siang hari mereka bersembunyi di tempat-tempat yang gelap dan terlindung, di dalam lobang-lobang batu karang.

Habitat Udang Barong

Berdasarkan hasil temuan, udang barong ditemukan di wilayah pantai timur Afrika, Jepang, Indonesia, Australia, dan Selandia Baru (HOLTHUIS, 1991).

Sementara di perairan Indonesia diketahui ada enam jenis udang karang bernilai ekonomis penting. Keenam jenis lobster termasuk dalam genus Panulirus, yaitu udang batu (Panulirus peniculatus), udang raja (P. longipes), udang rejuna (P. versicolor), udang jarak (P. polyphagus), udang pantung (P. homarus), dan udang ketangan (P ornatus) (Moosa, 1984).

Semua jenis lobster itu dapat kamu jumpai di berbagai perairan pesisir dengan dasar perairan berupa pasir berbatu, seperti perairan Pangandaran, Jawa Barat dan Gunungkidul, DIY.

Berdasarkan dari sejumlah informasi dari beberapa eksportir lobster, perairan Indonesia yang mempunyai potensi untuk penangkapan lobster ternyata terdapat di wilayah Paparan Sunda, Selat Malaka, Kalimantan Timur, Sumatra bagian timur, Pesisir Utara Pulau Jawa, Sulawesi, Maluku, Pantai selatan Papua, dan seluruh pesisir Samodra Indonesia.

Perlindungan udang barong

Menurut IUCN, saat ini udang yang punya nama latin Panulirus spp ini, dinyatakan masih dalam kategori resiko rendah atau least concern.

Spesies dinyatakan least concern apabila suatu ekosistem yang telah dievaluasi berdasarkan kriteria-kriteria risiko kepunahan, diperoleh hasil tidak memenuhi salah satu syarat sebagai kategori kritis (critically endangered), genting (endangered), rentan (vulnerable), dan hampir terancam (near threatened).

Baca Juga: Mengenal Udang Barong, Komoditas Ekspor yang Punya Nilai Jual Tinggi
Mengenal Udang Mantis, ‘Si Petinju Dalam Laut’ yang Punya Pukulan Mematikan

Lalu untuk CITES, lobster berada pada kategori not evaluated. Artinya, spesies lobster belum masuk dalam ketiga appendiks CITES.

Hal ini membuat pengelolaan udang jenis ini, kepiting, dan rajungan yang ada di Indonesia kini telah diatur oleh Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 12 Tahun 2020.

Video Terkait