Mantan Marketing Perusahaan Snack Terdampak Pandemi Pilih Budidaya Sidat

Bibit sidat. (Dok Pribadi Sidat Perkasa Nusantara)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 11 Mei 2022 | 20:40 WIB

Pandemi memukul banyak sektor yang menyebabkan sebagian masyarakat kehilangan pekerjaan. Namun, ide kreatif juga terus bermunculan di tengah pandemi untuk bisa bangkit dari keterpurukan.

Wisnu (35) sukses melewati masa pandemi dengan budidaya ikan sidat. Sebelumnya Pria asal Purworejo, Jawa Tengah yang kini menetap di Cimahi, Jawa Barat ini berprofesi sebagai marketing di perusahaan camilan anak.

“2020 ini COVID, saya masih kerja di marketing saya di snack waktu itu, snack itu tadinya angkanya luar biasa, pas COVID terus turun karena targetnya anak sekolah dan omzetnya terus turun. Ini kalau diteruskan akan susah, terus saya inget budidaya ikan sidat,” ujarnya saat dihubungi Sariagri.id, Rabu (11/5/2022).

“Saya mulai merintis budidaya tahun 2020, awalnya di Purworejo tempat lahir saya, tahun 2012 saya lulus kuliah memang lagi booming banget untuk ekspor sidat (sekarang dilarang) dari bayi sampai ukuran konsumsi bahkan sampai mateng,” tambahnya.

Wisnu yang juga Founder Sidat Perkasa Nusantara ini menjelaskan ikan sidat sangat diminati pasar dari berbagai ukuran mulai dari glass eel (benih sidat), helper (bibit sidat sebesar pulpen), dan fingerling (sidat berukuran jari orang dewasa).

“Bibit bagus itu kalau dari glass eel (warnanya) benar-benar harus bening gak boleh ada warna hitam sedikit pun, kalau berkumpul itu warnanya pink. Untuk fase selanjutnya (helper) seperti Mike Tyson gak panjang tapi kekar, fase selanjutnya fingerling itu udah lebih enak lagi pola pembudidayaannya,” jelasnya.

Harga bibit sidat dari ukuran glass eel berkisar antara Rp1,2 juta – Rp1,7 juta per kilogram dengan estimasi 4.000 ekor, ukuran helper dari tangkapan alam Rp300 ribu – Rp400 ribu per kilogram dengan estimasi 400 ekor, untuk helper budidaya harganya Rp1,5 juta per kilogram.

“Kenapa bibit budidaya mahal, karena tidak perlu treatment macam-macam, begitu bibit datang puasa satu hari besoknya baru kasih pakan buatan. Tapi kalau dari alam datang belum tentu mau makan, kita harus treatment pelan-pelan biar mau pakan buatan makanya harganya lebih mahal,” terangnya.

Wisnu mengungkapkan dalam budidaya sidat perlu memperhatikan beberapa hal penting, seperti pada fase glass eel perlu memperhatikan salinitas atau tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air.

“Untuk fase glass eel itu (memperhatikan) salinitas karena masih ikan muara, masih bau-bau laut dia asin, jadi dari tempat kita beli itu berapa di kolam kita harus menyesuaikan. Setelah kita beli dari pembeli itu harus langsung masuk ke kolam kita gak boleh lebih dari tiga hari, kalau lebih dari itu resiko kematian saya yakin 100 persen,” ungkapnya.

Baca Juga: Mantan Marketing Perusahaan Snack Terdampak Pandemi Pilih Budidaya Sidat
Mengenal Sidat, Ikan dengan Nilai Gizi Tinggi yang Mulai Diburu Pehobi

Dia menambahkan bahwa waktu panen sidat mencapai 14 sampai 16 bulan dari ukuran glass eel hingga berukuran 250 gram. Dikatakannya, biasanya ikan sidat yang diminati konsumen rumahan satu ekor berukuran satu kilogram.

Sariagri - “Kalau konsumen rumahan mereka malah mencarinya yang gede-gede, sekilo (isi) satu terus dua kilo (isi) satu. Kalau resto atau hotel paling 250 gram satu ekor dibagi dua piring biasanya,” tandasnya.

 

Video Terkait