Mengenal Sidat, Ikan dengan Nilai Gizi Tinggi yang Mulai Diburu Pehobi

Ikan Sidat (unagi). (DKP Kulonprogo)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 11 Mei 2022 | 18:50 WIB

Sidat (unagi) merupakan salah satu komoditas perikanan Indonesia yang terkenal dengan kandungan gizinya. Tak heran jika banyak orang mulai menekuni budidaya ikan ini.

Ikan sidat terdapat di semua laut di dunia kecuali di daerah kutub. Selain di laut, ikan sidat juga hidup di air tawar bahkan tumbuh baik di air dengan kadar garam rendah (salinitas rendah).

Salah satu pembudidaya ikan sidat, Wisnu (35), sekaligus founder Sidat Perkasa Nusantara yang berlokasi di Cimahi, Jawa Barat. Dia mengatakan terdapat 19 spesies sidat di dunia, sembilan di antaranya di perairan Indonesia.

“Dari 19 spesies sidat yang ada di dunia, di Indonesia ini ada sembilan spesies. Yang populer di Indonesia anguilla bicolor ini yang biasa dibudidaya, kedua marmorata, ketiga borneensis di Kalimantan, terus anguilla bicolor pacifica itu khusus di daerah Sulawesi. Empat itu yang sering dibudidayakan, diperdagangkan,” ujarnya saat dihubungi Sariagri.id, Rabu (11/5/2022).

Wisnu mengungkapkan sidat ramai dibudidayakan, bahkan dari kalangan pehobi ikan hias sudah mulai mencari beberapa spesies salah satunya anguilla marmorata.

“Anak-anak pehobi udah mulai cari anguilla yang marmorata, itu warnanya kalau sudah ukuran tertentu dia kaya emas, bintik-bintik ada gold-nya. Itu locality-nya ada di daerah Purworejo-Jogja khusus di situ memang bagus,” ungkapnya.

Baca Juga: Mengenal Sidat, Ikan dengan Nilai Gizi Tinggi yang Mulai Diburu Pehobi
Udang Galah, Udang Terbesar yang Jadi Komoditas Bernilai Ekonomi Tinggi

Anguilla marmorata ini, lanjut Wisnu, ukurannya bisa mencapai 10 meter sampai 10 kilogram satu ekornya. Dikatakannya, ikan ini juga kerap disenangi para pemancing karena sensasi strike yang luar biasa.

Sariagri - “Nah sidat yang besar-besar itu biasanya dilindungi adat, karena untuk menjaga mata air agar airnya tetap keluar. Kalau di daerah Jogja, di hulu sungai terlihat ada sidat orang boleh mancing tapi harus kembalikan lagi ‘nyowo bayar nyowo’ gitu istilahnya. Kebayanglah kalau mata air tertutup, itu sumber kehidupan makanya peran adat dibutuhkan,” pungkasnya.

 

Video Terkait