Jepang - Rusia Sepakati Penangkapan Ikan Salmon dan Trout, Dampak Perang?

Ilustrasi ikan salmon. (Pixabay)

Editor: M Kautsar - Selasa, 26 April 2022 | 13:50 WIB

Sariagri - Badan Perikan Jepang mengatakan bahwa Jepang dan Rusia telah menandatangani kesepakatan tentang kuota penangkapan ikan Tokyo (Tokyo's fishing quota) untuk salmon dan trout yang bertelur di sungai-sungai Rusia meskipun di tengah sanksi ekonomi Jepang terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina.

Dilansir Kyodo News, kedua negara menyepakati kuota sebanyak 2.050 ton dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) Jepang untuk tahun 2022. Jumlah tersebut sama dengan yang ditetapkan tahun lalu dengan biaya kerja sama yang dibayarkan Jepang ke Rusia sekitar 200 juta yen (sekitar Rp22,48 miliar) hingga 300 juta yen (sekitar Rp33,73 miliar) tergantung jumlah tangkapan yang sebenarnya.

Diketahui bahwa Jepang harus membayar biaya ke Rusia untuk salmon dan trout sebab menurut Konvensi PBB tentang Hukum Laut menyebutkan bahwa ikan salmon dan trout merupakan milik negara di mana ikan bertelur.

Dengan perjanjian baru yang ditandatangani Jepang dan Rusia terkait kuota penangkapan ikan salmon dan trout, para nelayan Jepang diharapkan mulai beroperasi pada awal Mei di ZEE dekat Hokkaido, pulau paling utara Jepang.

Di Hokkaido, larangan penangkapan ikan salmon dan trout dengan jaring biasanya dicabut pada 10 April dengan negosiasi yang biasa diadakan Jepang dan Rusia setiap musim semi sebelum batas waktunya.

Baca Juga: Jepang - Rusia Sepakati Penangkapan Ikan Salmon dan Trout, Dampak Perang?
Mengenal Salmon, Jenis Ikan yang Dikenal Paling Bernutrisi di Dunia



Kuota Jepang di ZEE Rusia biasanya dibahas bersamaan dengan alokasi Rusia di ZEE Jepang, tahun ini masih belum diputuskan dan penyesuaian jadwal negosiasi masih berlangsung.

Negosiasi menjadi bagian dari banyak kerangka kerjasama Jepang dan Rusia terkait penangkapan ikan. Kedua negara membahas kuota mereka untuk sumber daya ikan, seperti ikan saury dan cumi-cumi, di dalam ZEE masing-masing sepanjang tahun, tetapi negosiasinya diperkirakan tidak akan berjalan mulus tahun ini karena Jepang meningkatkan sanksi terhadap Moskow sebagai upaya menekan Rusia menghentikan perangnya di Ukraina.

Video Terkait