Bertaruh Nyawa Saat Melaut, Perempuan Nelayan Belum Diakui Negara?

Ilustrasi nelayan perempuan. (Antara)

Editor: Dera - Jumat, 22 April 2022 | 10:15 WIB

Sariagri - Perempuan pesisir istri dari nelayan dinilai tak mendapatkan kesetaraan hak sebagai nelayan meskipun tidak sedikit yang ikut melaut bersama suaminya untuk menangkap ikan dan terlibat dalam proses produksi, kata Penasehat Lembaga Serikat Nelayan dan Masyarakat Pesisir Nukila Evanty.

Nukila dalam webinar mengenai Perempuan Pesisir yang diselenggarakan oleh Toma Maritime Center dan Preposisi di Jakarta, mengungkapkan riset yang menyebutkan bahwa sebanyak 42 persen pekerja yang bekerja di sektor perikanan adalah perempuan.

"Sebanyak 42 persen pekerja di sektor perikanan adalah perempuan. Namun peranan penting perempuan sering diabaikan dan pada kebijakan dalam manajemen kurangnya pengakuan," kata Nukila.

Menurut dia, peranan penting perempuan nelayan yang sering diabaikan ini bisa mengakibatkan dampak yang tidak baik terhadap sektor perikanan, ekonomi, maupun lingkungan.

Nukila menyebutkan tidak sedikit perempuan yang merupakan istri dari nelayan turut terlibat dalam proses penangkapan ikan, bahkan sejak dari persiapan hingga pengolahan. Pada praproduksi, istri nelayan yang menyiapkan alat tangkap dan perbekalan selama melaut.

Selanjutnya istri nelayan turut melaut untuk menangkap ikan membantu suaminya, dan selanjutnya pada proses pasca produksi mengolah ikan untuk dijual.

"Istri ikut melaut menemani suami, keselamatannya dipertaruhkan ketika berada di tengah laut karena tidak mendapatkan asuransi karena tidak memiliki kartu nelayan. Bahaya yang bisa mengancamnya sewaktu-waktu karena tidak punya kartu nelayan," katanya, seperti dikutip dari Antara.

Baca Juga: Bertaruh Nyawa Saat Melaut, Perempuan Nelayan Belum Diakui Negara?
Dear KKP, Nelayan di Maluku Utara Kesulitan Urus Izin Tangkap Ikan

Nukila berpendapat bahwa seharusnya para perempuan nelayan tersebut mendapatkan hak yang sama dalam keamanan, keselamatan, dan perlindungan karena turut berpartisipasi dalam proses penangkapan ikan. Istri-istri nelayan tradisional yang turut melaut bersama suaminya, kata Nukila, didasari dari kebutuhan ekonomi.

Nukila juga menyarankan agar pemerintah mulai mendata mengenai perempuan nelayan dan mendaftarkannya sebagai nelayan agar mendapatkan kartu nelayan dan mendapatkan asuransi.

Video Terkait