Kisah Rio Bangun Usaha Biyu Fish Farm, Hingga Ekspor Guppy ke San Fransisco

Rio Brama Putra penggiat dan pelaku usaha ikan hias di Pasar Gembrong Baru. (Sariagri/Dwi Rachmawati)

Editor: M Kautsar - Rabu, 20 April 2022 | 15:40 WIB

Rio Brama Putra (47 Tahun) sudah terjun ke usaha ikan hias sejak tahun 2009. Sebelumnya dia bekerja sebagai karyawan di ritel modern hingga akhirnya memutuskan resign dan memulai usaha ikan hias yang dinamai Biyu Fish Farm.

"Karena saya melihat Bapak saya yang memang peternak ikan hias juga. Kemudian saya capek kerja sebagai karyawan, terus saya resign dan mengikuti jejak usaha bapak saya," ujar Rio saat ditemui Sariagri di lokasi usahanya, Selasa (19/04/2022).

Pada awalnya Rio hanya menggeluti usaha budidaya ikan gupi, kemudian tahun 2014 mulai membuka lapak ikan hias di Pasar Hewan Jatinegara. Lalu, tahun ini dia memindahkan lapaknya ke Pasar Gembrong Baru karena dinilai punya legalitas yang pasti.

Menurut Rio, usaha ikan hias adalah usaha yang menantang. Karena itu dia menyukai pekerjaannya yang sekarang. "Kalau usaha di makhluk hidup ini penuh tantangan, jadi semangat untuk hidup dan mencari uang itu tetap ada," katanya.

Arwana, cana (gabus) dan gupi merupakan jenis ikan yang fokus dikembangkan Rio. "Tadinya semua ikan hias kami coba, tapi yang saya suka ternyata tiga jenis itu karena punya peminat dan harga yang lumayan bagus," jelasnya.

Ikan gupi dijual mulai dari Rp25.000 - Rp150.000 per ekor, arwana dipatok mulai Rp250.000 - Rp2.000.000 per ekor tergantung jenisnya, dan ikan cana dipatok mulai Rp100.000 - Rp300.000 per ekor.

Kebanyakan para pelanggan datang dari kalangan reseller untuk dijual lagi di kios ikan dan konsumen akhir.

"Karena kami di Pasar Gembrong ini kan memang harga grosir, jadi kebanyakan reseller langsung datang ke sini. Tapi ada juga sebagian datang dari penghobi," paparnya.

Rio mempromosikan ikan hias dagangannya melalui media sosial seperti Facebook, instagram (@biyufishfarm_57) dan Youtube.

Biyu Fish Farm, selain membuka lapak ikan hias di Pasar Gembrong Baru, juga mempunyai tempat budidaya ikan gupi di wilayah Cipayung, Jakarta Timur. "Jadi komunitas ikan gupi se Jakarta ini saya juga jadi ketuanya. Penjualan ikan gupi banyaknya di rumah saya langsung di Cipayung," tuturnya.

Rio mengaku ikan gupi miliknya sudah terjual ke berbagai daerah. Di dalam negeri, paling jauh Rio mengirim pesanan ikan gupi ke Ambon, Maluku.

Selain itu, Rio juga pernah mengekspor ikan gupi ke San Fransisco, Amerika Serikat melalui perantara ekspor.

"Saya pernah kirim ke San Fransisco, ikan gupi cuma dua ekor aja harganya sekitar Rp1,2 juta per ekornya. Tapi harga segitu akan kena pungutan 5 dolar AS per ekor untuk karantina," ungkapnya.

Menurut Rio, tantangan dalam ekspor ikan hias hidup adalah waktu pengiriman harus tepat. Telat-telat sedikit dikhawatirkan ikan akan bermasalah atau bahkan mati.

Selain itu, kata Rio, saat ini kendala besar dalam usaha ikan hias adalah jumlah pasokan belum bisa memenuhi seluruh permintaan yang ada.

"Kendala besar di usaha jenis ikan ini peminatnya banyak, tapi ikannya nggak ada. Saya banyak pesanan tapi kewalahan karena pasokan terbatas," ucapnya.

Rio menyebutkan rata-rata ikan gupi bisa terjual hingga 500 ekor per bulan, ikan cana bisa mencapai 20 ekor per bulan dan ikan arwana bisa terjual hingga 3 ekor per bulan. Dari usaha ikan hias Rio bisa mengantongi cuan hingga Rp15 juta per bulan.

Lebih lanjut, Rio mengatakan para pedagang ikan hias Pasar Gembrong Baru berencana akan membuka kegiatan pasar subuh, di mana para pedagang menjajakan ikan di pinggir jalan mulai dari jam 11 malam hingga 4 pagi.

Rio berharap banyak para pedagangan dan penghobi ikan hias untuk bangkit kembali setelah dua tahun belakangan diterjang pandemi Covid-19.

"Ayo kita mulai lagi, kedepannya prospek ikan hias ini akan sangat pesat," pungkasnya.

Video Terkait