5 Fakta Sapi Laut, Mamalia Besar yang Punah Akibat Kerakusan Manusia

Ilustrasi Sapi Laut. (Foto: Wikimedia Commons)

Editor: Putri - Jumat, 8 April 2022 | 13:50 WIB

Sariagri - Sapi laut atau juga disebut sapi laut Steller adalah mamalia air yang sangat besar. Hewan ini diketahui punah pada 1768.

Cukup mirip dugong, sapi laut cirinya adalah kepalanya kecil dan ekor yang lebar. Siripnya kecil dan tubuhnya berwarna coklat, beberapa di antaranya terdapat belang atau totol putih.

Selain itu ciri unik lainnya adalah sapi laut Steller tidak punya gigi, hanya lempengan tulang di dalam mulut. Mamalia besar ini menggerus makanan yaitu rumput di dasar perairan.

Hewan ini tergabung dalam ordo Sirenia, yang memiliki lima spesies. Namun yang masih hidup hanya tinggal empat spesies, terdiri dari tiga spesies manatee dan satu spesies dugong.

Sementara sapi laut merupakan spesies sirenia terbesar dibandingkan dugong karena hanya mencapai panjang 3 meter. Namun sayangnya sudah punah.

Berikut fakta lainnya tentang sapi laut.

1. Ditemukan pada 1741

Mamalia besar ini ditemukan oleh naturalis Jerman Georg W. Steller, saat perjalanan di Pasifik Utara. Tidak ada spesimen yang diawetkan, tetapi sapi laut jelas merupakan sirene terbesar.

Mengutip Britannica, panjang hewan ini 9 hingga 10 meter dan berat mungkin 10 metrik ton. Ukuran tersebut jauh lebih besar daripada manatee dan dugong.

Penemuan hewan ini membuat banyak pelaut asal Rusia untuk datang ke Laut Bering. Saat itu, diperkirakan masih ada sekitar 2.000 ekor di kawasan tersebut.

2. Punah Kurang dari 30 Tahun Setelah Penemuan

Mamalia raksasa ini pernah menghuni daerah pantai Kepulauan Komandor di Perairan Bering. Hewan ini punah pada abad ke-18 akibat perburuan atau kurang dari 30 tahun setelah pertama kali ditemukan.

Research Gate bahkan menyebut bahwa hewan ini diburu 7 kali lipat dari jumlah yang bisa dikonsumsi manusia. Akhirnya pada tahun 1768, hewan ini dinyatakan punah, alias hanya 27 tahun setelah pertama kali ditemukan. Sungguh miris!

3. Punah Akibat Kerakusan Manusia

Para pemburu dan pedagang mengikuti rute Bering ke Alaska, memburu hewan ini untuk makanan dan kulitnya yang digunakan untuk membuat kapal. Padahal populasi hewan ini hanya terbatas di Laut Bering.

Hewan ini juga diburu untuk diambil lemaknya yang tidak hanya digunakan untuk makanan, tetapi juga sebagai lampu minyak. Minyak dari hewan ini tidak mengeluarkan asap atau bau serta dapat disimpan dalam waktu yang lama pada udara hangat.

4. Menjadi Favorit karena Ukurannya Besar

Mamalia ini sangat mudah diburu dan ditangkap. Hal tersebut dikarenakan mamalia ini lebih sering berenang di permukaan, bukan menyelam ke dalam air. Selain itu, berenangnya pun sangat lambat.

Perlahan tapi pasti, populasi hewan tersebut pun terus berkurang. Dagingnya banyak dan tebal, oleh sebab itu para pelaut sangat suka mengonsumsinya selama di perjalanan.

Mengutip BBC, hewan ini juga punya lemak setebal 10 cm. Lemaknya tersebut beraroma seperti minyak almond, yang semakin menambah daya tarik mereka untuk diburu.

Baca Juga: 5 Fakta Sapi Laut, Mamalia Besar yang Punah Akibat Kerakusan Manusia
Terdampak Abu Vulkanik, Puluhan Sapi di Banyuwangi Menderita Kolik Abdomen

5. Hewan Monogami

Hewan ini dikenal monogami, bersosial, dan meratapi kematian kawanannya.

“Ketika seekor betina ditangkap, sang jantan sekuat tenaga untuk membebaskan pasangannya yang ditangkap, namun hal tersebut sia-sia," jelas seorang penjelajah yang berburu kerabat dugong ini pada 1751.

"Sang jantan mengikutinya cukup jauh ke pantai, meskipun kami memukulnya berkali-kali. Ketika kami datang keesokan harinya, pagi-pagi sekali, untuk memotong daging dan membawanya pulang, kami menemukan jantan tersebut masih menunggu," tambahnya.

Video Terkait