Cacing Laut Miliki Manfaat Sebagai Umpan dan Obat Alami

Laor atau wawo merupakan sebutan untuk cacing laut yang kerap ditangkap dan dikonsumsi masyarakat di Kepulauan Maluku. (KKP)

Editor: Putri - Selasa, 5 April 2022 | 17:20 WIB

Sariagri - Cacing laut adalah polychaeta yang hidup dalam terumbu karang pada pantai tropis yang berada dekat dengan Samudera Pasifik. Di Indonesia, beberapa daerah yang diketahui menjadi habitat cacing laut di antaranya Maluku dan Lombok.

Sebutan cacing laut pun beragam. Di Maluku disebut laor, sedangkan di Lombok bernama nyale. Melansir situs Kemenpar, wujud nyale sendiri begitu unik.

Selain berwarna-warni, Nyale juga mengandung protein yang tinggi sehingga sangat layak untuk dijadikan makanan. Tidak heran jika setelah hewan itu ditangkap, warga langsung memakannya. Tapi ada juga yang dibawa pulang dan dimasak untuk dimakan bersama keluarga.

Biasanya masyarakat memasaknya dengan cara dipepes dengan bungkus daun pisang. Kegiatan berburu Nyale baru usai setelah matahari terbit.

Tidak jarang juga orang menggunakan cacing laut untuk umpan. Bisa untuk umpan memancing atau sebagai pakan induk udang di pembenihan udang.

Hewan ini memang terkenal sangat bagus digunakan sebagai umpan. Hal tersebut dikarenakan hewan ini memiliki bau yang sangat amis dibandingkan dengan jenis yang hidup di tanah. Hal tersebut menarik ikan.

Mengutip jurnal yang diterbitkan balitbang KKP, cacing laut mempunyai potensi untuk dibudidayakan di Indonesia. Potensi tersebut dapat dilihat dari banyaknya pembenihan udang yang memanfaatkan hewan ini sebagai pakan induk.

Walaupun demikian, cacing laut yang berasal dari alam mempunyai risiko membawa penyakit dan zat-zat toksik berbahaya yang dapat menular ke induk udang.

Oleh karena itu, diperlukan budidaya karena produk hasil budidaya lebih aman dibandingkan dengan hasil penangkapan di alam.

Manfaat untuk Kesehatan

Selain sebagai umpan, hewan ini juga memiliki manfaat kesehatan. Dari hasil penelitian yang dilakukan selama empat tahun, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Prof. Sri Purwaningsih M.Si menunjukkan bahwa ekstrak hewan ini dapat digunakan sebagai obat antidiabet alami.

Prof Sri Purwaningsih melakukan penelitian terhadap spesies Siphonosoma australe-australe. Di Cina Selatan, hewan tersebut telah lama digunakan sebagai obat tradisional dalam mengobati berbagai penyakit seperti tuberkulosis, pengaturan fungsi lambung dan limpa, serta pemulihan kesehatan yang disebabkan oleh patogen.

Hasil penelitian yang dilakukan Prof Sri juga menunjukkan bahwa ekstrak Siphonosoma australe-australe memiliki potensi sebagai antidiabetes. Hal tersebut diperoleh melalui uji in vitro yang dapat menghambat aktivitas enzim alpha glukosidae sebesar 16-24 ppm (sangat kuat).

Sedangkan hasil pengujian secara in vivo pada hewan model mampu menurunkan kadar glukosa darah dengan konsentrasi terbaik 45 mg/kg berat badan. Manfaat tersebut berasal dari kandungan flavonoid dan saponim pada ekstrak spesies Siphonosoma australe.

Selain itu, proteinnya jauh jauh lebih tinggi dari telur ayam ras dan susu sapi. Hewan tersebut memiliki kandungan protein sebanyak 43.84 persen sedangkan telur ayam ras dan susu sapi masing-masing hanya sebesar 12.2 persen dan 3.50 persen. Selain itu terdapat kadar fosfor dan kalsium yang cukup tinggi.

Sementara itu, menurut LIPI, cacing laut yang disebut wawo atau laor oleh masyarakat Ambon, memiliki kandungan protein yang bahkan lebih tinggi dari telur.

Baca Juga: Cacing Laut Miliki Manfaat Sebagai Umpan dan Obat Alami
Mitos atau Fakta: Benang Hitam pada Udang Bahaya pada Tubuh Manusia

Bagi masyarakat setempat, biota laut tersebut dipercaya dapat digunakan sebagai obat kuat untuk meningkatkan gairah seksual menggantikan kebutuhan protein.

Kemunculan laor ke permukaan laut sebetulnya adalah untuk bereproduksi, sehingga seekor laor jantan hampir seluruh tubuhnya adalah sperma, sedangkan hampir seluruh tubuh laor betina adalah ovum. Oleh sebab itu kandungan proteinnya sangat tinggi.

Video Terkait