Bangun Peternakan Ikan Nila Sistem Bioflok, Peternak Ini Pasok Kebutuhan Restoran

Dian Kustiadi (49) peternak ikan nila sistem bioflok.(Dok. Pribadi)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 2 Maret 2022 | 18:45 WIB

Sariagri - Bagi sebagian orang, pandemi COVID-19 tidak hanya memberikan dampak buruk. Salah satu dampak positif dari pagebluk ini adalah munculnya ide kreatif yang bisa menghasilkan pund-pundi rupiah.

Seperti yang dilakukan Dian Kustiadi (49), yang menanfaatkan waktunya di sela-sela work from home (WFH) untuk membangun peternakan ikan nila dengan metode bioflok di Cijambe, Subang, Jawa Barat.

“Waktu itu mulai pandemi, WFH setelah sekian lama itu, pada dasarnya saya senang air dan senang ikan. Terus saya lihat-lihat Youtube mulailah saya budidaya ikan sistem bioflok. Dengan adanya pandemi seolah dipaksa untuk memanfaatkan waktu,” ujarnya saat dihubungi Sariagri.id, Rabu (2/3/2022).

Dian menjelaskan modal awal untuk membangun peternakan ikan dengan sistem bioflok sekitar Rp40 jutaan. Dana itu digunakannya untuk membangun enam kolam bioflok berbagai ukuran.

“Ada enam kolam, kolam diameter empat ada empat, kolam dua meter ada dua. Kenapa kolamnya segitu karena saya memanfaatkan lahan biar maksimal aja, dengan luas lahan sekitar 120 meter,” jelasnya.

Peternakan ikan nilanya dimulai dari membeli 60 ribu larva. Dari jumlah larva itu berhasil masuk hingga masa panen dengan tingkat hidup cukup besar.

“Jadi kalau yang kita dederkan sendiri itu tingkat kematiannya sangat minim bisa sekitar 5 persen. Dalam bisnis perikanan ini, jual benih itu lebih menguntungkan dari pembesaran,” terangnya.

Setelah berjalan dua tahun Dian telah memiliki sekitar 70 kolam ikan nila dengan berbagai ukuran tersebar di empat lokasi di Subang.

“Setelah berhasil pendederan saya lanjut pemijahan, jadi gak usah beli larva lagi,” tuturnya.

Selain menjual bibit, dia juga turut memasok kebutuhan rumah makan di sekitar wilayah Jawa Barat dengan metode canvasing. Metode canvasing merupakan salah satu aktivitas sales untuk melakukan contact dengan pelanggan atau calon pelanggan.

Menurut dia, kualitas ikan nila yang dihasilkannya cukup baik sehingga diminati sejumlah rumah makan.

“Pelanggan setia kita itu bilangnya ikan super lah ya, karena memang beda dari rasa dan dagingnya,” katanya.

Dian menyebutkan dalam satu bulan bisa memanen ikan 3,5-4 ton. Selain sebagai peternak, Dian juga mengembangkan bisnisnya menjadi pengepul ikan dengan harapaon bisa mendapatkan ikan kurang lebih 7 ton dalam sebulan.

“Kalau pengepulkan dapat keuntungannya dari marjin, taruhlah kita ambil Rp3 ribu berarti dalam satu bulan bisa dapat Rp21 juta ya itu kalau berjalan, dan mudah-mudahan bisa lebih saya yakin,” tandasnya.

Keunggulan sistem bioflok

Dian yang juga berkerja sebagai kepala divisi di salah satu Bank Syariah di Jakarta mengungkapkan terdapat beberapa keunggulan dari beternak ikan menggunakan sistem bioflok.

Baca Juga: Bangun Peternakan Ikan Nila Sistem Bioflok, Peternak Ini Pasok Kebutuhan Restoran
Mentan: KUR Salah Satu Kekuatan di Bidang Pertanian

Sistem bioflok menghemat air karena bisa diterapkan di tempat yang minim air. Selain itu air buangan dari kolam bioflok mengandung amoniak sehingga cocok dijadikan pupuk untuk areal persawahan.

“Air yang keluar itu memang bau karena mengandung kadar amoniak yang tinggi, tapi pada saat dialirkan ke sawah orang, nanti jadi pupuk buat mereka,” pungkasnya.

Video:

Video Terkait