Investasi Industri Rumput Laut di Luar Asia, Melonjak 36 Persen Mencapai 168 Juta Dolar AS

Ilustrasi - Rumput laut merupakan salah satu sumbar bahan baku industri.(Antara)

Editor: M Kautsar - Senin, 17 Januari 2022 | 22:30 WIB

Sariagri - Sebuah penelitian oleh Phyconomy mengungkapkan sepanjang tahun 2021 industri rumput laut di luar Asia mengalami peningkatan jumlah investasi dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Naik dari 17 investasi menjadi 34, total investasi industri rumput laut naik sebesar 36 persen dengan total nilai mencapai 168 juta dolar AS atau lebih dari Rp 2,3 triliun.

Meski masih lebih kecil dibanding investasi budidaya ikan dan udang, dan pertanian berbasis lahan, laporan itu menyebut trend kenaikan ini cukup signifikan.

Dalam laporan The Fish Site dijelaskan, jumlah putaran benih bertambah dari 12 menjadi 20, dan jumlah Seri A atau B melonjak dari 1 menjadi 9, menunjukkan bahwa industri rumput laut mulai keluar dari tahap penetasan.

Startup yang mengumpulkan investasi  terbesar pada tahun 2021 diantaranya biorefinery Norwegia Alginor (33 juta dolar AS) dan Hutan Laut Australia (26 juta dolar AS), menangani emisi metana ternak. Sementara diposisi lima besar adalah New Wave Foods (18 juta dolar AS - udang nabati), Ocean's Halo (16 juta dolar AS- makanan ringan rumput laut), dan Notpla (13,5 juta dolar AS - bioplastik).

Laporan itu juga menjelaskan, eropa memiliki ekosistem startup rumput laut yang paling hidup, tetapi startup Amerika Utara merasa lebih mudah untuk menarik modal. Jumlah startup rumput laut baru tumbuh 50 persen dalam dua tahun terakhir.

Sebagai tanaman yang tidak menggunakan tanah, air tawar atau pupuk tetapi mengambil CO2 dan nutrisi berlebih dari laut, rumput laut dianggap sebagai biomassa masa depan, dengan aplikasi dalam makanan, pakan, obat-obatan, tekstil, perawatan pribadi, kesehatan tanah, konstruksi, pengemasan, energi, penyerapan karbon, dan bioremediasi. Baca Juga: Investasi Industri Rumput Laut di Luar Asia, Melonjak 36 Persen Mencapai 168 Juta Dolar AS
Ikan Kerapu, Komoditas Budidaya Indonesia yang Diminati Pasar Mancanegara



“Rumput laut adalah bagian penting dari ekosistem bumi, dan berpotensi menjadi alat yang ampuh untuk menyerap emisi karbon dan memperlambat pemanasan,” kata Frances Wang, manajer program penghilangan karbon dioksida untuk ClimateWorks Foundation, yang mendukung laporan tersebut.

“Laporan Phyconomy menjelaskan bagaimana sumber daya mengalir ke industri yang sedang berkembang ini, yang memiliki implikasi penting bagi pengembangan rumput laut sebagai solusi iklim,” tambah Wang.

Video terkini:

Video Terkait