Labi labi, Hewan Sejenis Kura-kura yang Miliki Moncong Babi

Ilustrasi labi-labi atau bulus (Foter)

Penulis: Tanti Malasari, Editor: Nazarudin - Jumat, 14 Januari 2022 | 18:05 WIB

Sariagri - Nama labi labi memang terdengar aneh. Tidak banyak yang tahu bahwa hewan ini merupakan hewan di perairan air tawar seperti sungai, danau dan rawa. Namun beberapa spesies dari mereka, ada juga yang bisa beradaptasi untuk hidup di perairan air payau.

Persebaran kelompok hewan ini sangat luas, mereka tersebar di hampir semua wilayah di seluruh dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, hewan ini dapat kita temukan di pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan pulau kecil disekitarnya.

Biasanya hewan yang dikelompokkan ke dalam famili Trionychidae ini, menyukai hidup pada perairan yang memiliki suhu sekitar 25-30 C dan memiliki arus lambat ataupun tanpa arus. Mereka juga sangat menyukai daerah yang berlumpur dan tidak terlalu dalam, karena mereka membutuhkan daerah berlumpur tersebut untuk aktivitas berkembang biaknya.
Di Indonesia, hewan ini memiliki banyak nama.

Penyebutan berbeda-beda tergantung tiap daerah. Untuk daerah Pasudan - Jawa Barat disebut denan Kuya, Minangkabau - Sumatera Barat disebut labi, dan untuk daerah Kalimantan disebut dengan bidawang. Diluar Indonesia, hewan ini dikenal dengan nama Asiatic softshell trutle atau common softshell turtle. Namun secara umum, mereka lebih dikenal dengan labi-labi atau bulus.

Karakteristik Labi-labi

Secara karakteristik fisik, bentuk tubuhnya menyerupai kura-kura, namun dengan cangkang yang lunak. Cangkangnya yang ringan dan fleksibel ini, membuat mereka bisa dengan mudah bergerak terutama di dasar danau yang berlumpur. Cangkang lunak yang dimilikinya, juga membuat mereka bergerak dengan cepat di dataran daripada jenis kura-kura lainnya.

Mereka juga memiliki kaki berselaput dan bercakar tiga. Pada bagian hidung, mereka memiliki lubang hidung yang memanjang lembut seperti sebuah snorkel, dan tampak seperti moncong babi. Mereka juga memiliki leher yang sangat panjang, membuat mereka dapat menghirup oksigen yang ada di atas permukaan air sementara tubuh mereka terendam di dalam lumpur dasar perairan. Panjang tempurung mereka bisa mencapai 25-40 cm.

Warna punggung hewan air ini bervariasi, mulai dari abu-abu kehitaman, kecoklatan, dan juga kemerahan. Warna tersebut biasanya diiringi dengan pola bintik-bintik halus. Warna ini tampak berbeda-beda, tergantung dengan pasir atau lumpur dimana mereka hidup. Warnanya tersebut membantu mereka berkamuflase dengan lingkungan sekitarnya, sehingga musuh tidak dapat mendeteksi keberadaannya.
Labi labi betina mampu tumbuh mencapai beberapa kaki lebih besar dari diameter karapas mereka, sedangkan pejantan ukurannya jauh lebih kecil. Ini merupakan salah satu bentuk dimorfisme seksual yang dimiliki mereka. Tercatat ada Pelochelys cantorii, yang merupakan labi labi raksasa yang bisa ditemukan di Asia Tenggara dan menjadi jenis kura-kura air tawar terbesar di dunia.

Makanan Labi Labi

Di alam bebas, hewan ini memangsa hewan kecil seperti ikan, krustasea, siput, amfibi, serangga dan terkadang burung serta mamalia kecil. Namun saat di penangkaran, mereka juga bisa diberi makan pelet, ikan, jangkrik, cacing atau belalang yang mengambang.

Baca Juga: Labi labi, Hewan Sejenis Kura-kura yang Miliki Moncong Babi
Ikan Parrot, Ikan Hibrida dengan Karakter Unik yang Mirip Louhan

Dijadikan makanan dan obat tradisional

Siapa yang sangka, hewan yang merupakan perenang andal ini, ternyata banyak dimanfaatkan sebagai salah satu hewan konsumsi yang kaya gizi. Tak hanya itu saja, daging labi labi juga dipercaya sebagai obat dalam sistem pengobatan tradisional di berbagai negara salah satunya Tiongkong.
Mereka dimanfaatkan untuk menjadi obat luka, mengobati keputihan, asma dan penyembuhan setelah melahirkan. Selain itu minya hewan ini juga kerap dijadikan sebagai bahan baku kosmetik dan dipercaya dapat membuat kulit menjadi halus, menghilangkan gatal, flek dan bau badan.

Hewan yang dilindungi

Namun sangat disayangkan, banyaknya manfaat yang dimiliki hewan ini membuatnya diburu masal hampir di seluruh dunia. Hal ini menyebabkan populasinya menurun dan masuk dalam kategori vulnerable atau rentan akan kepunahan versi IUCN. Oleh karena itu, harus ada tindak lanjut untuk mencegah kepunahan guna menjaga populasi hewan unik ini agar tetap terjaga.

Video Terkait