Cacing Sutra, Pakan Alami Kaya Protein untuk Ikan Air Tawar

Ilustrasi cacing sutera (foter)

Editor: Dera - Selasa, 4 Januari 2022 | 10:45 WIB

Sariagri - Cacing sutra atau cacing rambut (Tubifex sp) adalah spesies cacing dari kelompok Nematoda yang banyak mendiami dasar perairan seperti danau, sungai dan saluran pembuangan yang berair jernih.

Cacing ini banyak dimanfaatkan sebagai pakan ikan air tawar yang kaya protein sehingga sangat baik untuk pertumbuhan larva ikan atau burayak.

Sepintas, cacing sutra terlihat seperti sekumpulan cacing kecil berwarna merah yang melambai-lambai di dasar air. Namun berdasarkan bentuk morfologinya, tubuhnya sangat kecil dan tipis dengan panjang hanya 10-30 mm saja.

Cacing ini juga memiliki saluran pencernaan berupa celah kecil mulai dari mulut hingga anus. Karena tubuhnya sangat kecil, hewan ini tidak memiliki insang dan bernapas dengan menggunakan permukaan tubuhnya.

Sebab itu cacing ini suka membuat tabung pada permukaan lumpur dan bagian ekornya keluar melambai-lambai untuk memperoleh sirkulasi udara.

Cacing sutra adalah hewan yang bersifat hermaprodit yaitu setiap individunya memiliki organ jantan dan betina sekaligus. Organ ini melekat pada sisi perut dan memiliki waktu kematangan seksual berbeda sehingga fertilisasi sendiri sangat jarang terjadi.

Tubuhnya mengandung kira-kira 57 % protein dan 13 % lemak, sebab itu cacing ini banyak digunakan sebagai pakan ikan air tawar terutama jenis ikan hias, belut dan ikan lele.

Budidaya cacing sutra

Budidayanya sendiri dapat dilakukan dengan meniru habitat aslinya, yaitu dikembangbiakan pada kolam dangkal berlumpur dengan air yang sedikit mengalir. Cacing yang dalam bahasa Inggris disebut boogie worms ini sangat bergantung pada sumber air untuk mendukung pertumbuhannya.

Air yang digunakan memilki pH sekitar 5.5-8 dengan suhu yang tidak terlalu tinggi antara 25-28 derajat Celsius. Kedalaman kolam idealnya sekitar 0–4 cm dan kandungan oksigen sekitar 2,5–7,0 ppm.

Bibit cacing sutra bisa diperoleh di toko ikan hias, atau bisa mengambilnya di sungai, saluran air dan danau. Namun perlu diingat, mengambil bibit cacing di alam bebas berisiko terinfeksi bakteri patogen, sebab itu wajib dikarantina sebelum masuk dalam kolam pembibitan.

Ada beberapa media tumbuh cacing yang dapat digunakan yaitu media berupa nampan dengan sistem SCRS (semi closed resurculating system), media berupa kolam lumpur berukuran 20 x 20 cm atau wadah dari terpal.

Setelah bibit ditebar dalam media tumbuh, perlu diberikan pupuk supaya bibit dapat berkembang dengan baik. Pemupukan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung dan fermentasi.

Pemupukan langsung dilakukan dengan mencampur kotoran hewan seperti ayam, kambing atau kotoran sapi dengan dedak. Perbandingannya yaitu 100-250 gram kotoran hewan dan 200-250 gram dedak per m2 kolam tumbuh.

Sementara pemupukan fermentasi dapat dilakukan dengan menambahkan probiotik atau molase pada pupuk campuran tersebut. Selain itu, dapat pula ditambahkan sawi, atau ampas tahu ke dalam kolam tumbuh.

Selama perawatan pastikan media tumbuh selalu basah dengan air dengan aliran pada kisaran 0,01 liter perdetik. Jumlah debit air yang cukup akan membantu aliran oksigen terjaga dengan baik.

Cacing ini biasanya dapat dipanen setelah usianya sekitar 2 minggu. Caranya dengan menyeroknya menggunakan saringan halus dan cacing siap dipasarkan atau langsung diberikan pada ikan.

Baca Juga: Cacing Sutra, Pakan Alami Kaya Protein untuk Ikan Air Tawar
Ingin Cuan pada 2022, Cobalah Budidaya Salmon

Kandungan gizi

Cacing ini diketahui mengandung protein tinggi yang tidak kalah dengan pakan ikan alami lainnya seperti artemia, jentik nyamuk, atau infusoria. Selain itu, cacing ini juga dilengkapi dengan asam amino esensial dan non esensial yang berperan mempercepat perkembangan jaringan pada tubuh ikan.

Berdasarkan kandungan gizinya tersebut, selain mempercepat pertumbuhan ikan juga dapat memperkokoh ekor pada ikan cupang dan membuatnya lebih gesit. 

Video Terkait