Ilmuwan Cina Berhasil Kembangkan Plastik Biodegradable dari Sperma Salmon

Ilustrasi ikan salmon. (pixabay)

Editor: Dera - Selasa, 7 Desember 2021 | 21:30 WIB

Sariagri - Para ilmuwan Universitas Tianjin, Cina berhasil mengembangkan plastik berkelanjutan dan biodegradable yang berasal dari sperma salmon dan minyak nabati.

Plastik yang disebut plastik DNA ini diklaim hanya menghasilkan lima persen emisi karbon, dari pembuatan plastik polistiren biasa.

Menggunakan untaian DNA dari sperma ikan salmon yang diekstraksi, para peneliti melarutkan materi genetik dalam air dengan ionomer, sejenis polimer yang biasa ditemukan dalam perekat untuk menghasilkan gel yang cukup lentur dan dicetak menjadi berbagai bentuk.

Bahan tersebut, menurut laporan The Time, kemudian dibekukan dan dikeringkan untuk mengatur bentuknya. Eksperimen itu merujuk pembuatan mug serta potongan puzzle, di mana semuanya terbuat dari apa yang mereka sebut "plastik berbasis DNA".

Baik DNA maupun plastik terbuat dari polimer yang mungkin terbentuk secara alami atau sintetis. Adapun yang pertama banyak tersedia di tumbuhan, hewan, bakteri dan yang terakhir bergantung pada minyak bumi atau bahan bakar fosil.

Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Journal of American Chemical Society menemukan bahwa hasilnya terlihat dan terasa seperti plastik, namun menghasilkan kurang dari lima persen emisi karbon yang dihasilkan selama pembuatan plastik polistiren biasa.

Melansir Malay Mail, peneliti utama Dayong Yang mengatakan, sepengetahuan mereka, plastik DNA adalah bahan yang paling ramah lingkungan dari semua plastik yang dikenal, karena produk plastik sering digunakan untuk menampung cairan. Para peneliti menyarankan bahwa wadah bioplastik tersebut harus diperlakukan dengan bahan kedap air yang dapat mengurangi daya daur ulangnya.

Baca Juga: Ilmuwan Cina Berhasil Kembangkan Plastik Biodegradable dari Sperma Salmon
Kenapa Makan Ikan Salmon Jangan Digoreng? Ketahui Manfaatnya

Aplikasi berguna lainnya untuk zat ini termasuk elektronik dan bentuk kemasan lainnya. Penelitian ini muncul ketika para ilmuwan berjuang untuk menemukan solusi untuk mengurangi sampah plastik.

Dalam laporan 2019 oleh Koalisi Polusi Plastik, lebih dari 30 juta ton plastik dibuang setiap tahun, hanya 8 persen yang didaur ulang di AS. Sebagian besar sisanya berakhir di tempat pembuangan sampah, sementara 1 hingga 2 juta ton lainnya berserakan di darat dan di air, di mana ia dapat pecah menjadi mikroplastik yang membahayakan kesehatan hewan dan manusia.

Video Terkait