Mengapa Katak Beracun Tidak Mati Karena Racunnya Sendiri? Ini Jawaban Ahli

Ilustrasi - Katak beracun .(Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Minggu, 5 Desember 2021 | 14:00 WIB

Sariagri - Katak panah beracun adalah salah satu jenis katak paling beracun dari keluarga Dendrobatidae. Katak yang hidup di hutan hujan Amerika Tengah dan Selatan itu membawa cukup racun untuk membunuh 10 manusia dewasa hanya dalam waktu 10 menit saja.

Menariknya, katak panah beracun tidak terlahir membawa racun, mereka mendapatkan bahan kimia berbahaya itu karena memangsa serangga dan artropoda lainnya. Pertanyaannya mengapa katak itu tidak mati saat menelannya? 

Dilansir Live Science, seorang peneliti di Cardiovascular Research Institute University of California San Francisco, Fayal Abderemane-Ali berhasil mengungkap fenomena ini.

Abderemane-Ali dan para peneliti mempelajari katak beracun dalam genus Phyllobates yang mengandung racun batrachotoxin. Racun jenis ini mengganggu pengangkutan ion natrium keluar masuk sel yang menjadi salah satu fungsi fisiologis terpenting dalam tubuh.

Otak mengirimkan sinyal ke tubuh melalui ion. Sinyal-sinyal itu membawa instruksi ke anggota tubuh, kapan bergerak, ke otot untuk memberikan perintah kontraksi, dan ke jantung untuk menyuruhnya memompa.

Sinyal ini dimungkinkan karena adanya aliran ion positif, seperti natrium yang masuk ke dalam sel bermuatan negatif. Ion mengalir masuk dan keluar sel melalui pintu protein yang disebut saluran ion. Ketika saluran ion terganggu, sinyal tidak dapat berjalan melalui tubuh.

Batrachotoxin menyebabkan saluran ion tetap terbuka, menghasilkan aliran ion bermuatan positif yang mengalir bebas ke dalam sel. Jika tidak dapat menutup, seluruh sistem kehilangan kemampuannya untuk mengirimkan sinyal.

"Kita membutuhkan saluran ini untuk membuka dan menutup guna menghasilkan listrik yang menjalankan otak atau otot jantung kita. Jika saluran tetap terbuka, tidak ada aktivitas jantung, tidak ada aktivitas saraf atau aktivitas kontraktif." katanya.

Dia menjelaskan, pada dasarnya, jika manusia menelan katak itu akan tewas seketika. Jadi bagaimana katak ini, dan hewan lain menghindarinya?

Ada tiga strategi yang digunakan hewan beracun untuk menghentikan autointoxication. Paling umum dengan melibatkan mutasi genetik yang sedikit mengubah bentuk protein target toksin, yaitu pintu ion natrium sehingga tidak bisa lagi mengikat protein.

Misalnya, spesies katak beracun yang disebut Dendrobates tinctorius azureus membawa racun epibatidine, meniru zat kimia pemberi sinyal, asetilkolin. Katak ini kemudian mengembangkan adaptasinya pada reseptor asetilkolin dengan sedikit mengubah bentuknya yang membuat kebal terhadap racun.

Strategi lain yang digunakan predator hewan beracun adalah kemampuan untuk membuang racun dari tubuh sepenuhnya. Proses ini tidak selalu sama dengan menghindari autointoxicatio.

Strategi ketiga disebut sequestration, yaitu mengembangkan sistem penangkap atau penyerap racun untuk memastikan tidak menimbulkan masalah pada hewan iitu.

Dalam penelitiannya, Adberemane-Ali, mengkloning saluran natrium-ion dari katak Phyllobates dan memperlakukannya dengan racun. Dia terkejut melihat saluran ion natrium tidak tahan terhadap racun.

"Hewan-hewan ini seharusnya mati," kata Abderemane-Ali.

Menurut dia, saluran ion natrium katak tidak menahan efek merusak racun sehingga seharusnya tidak dapat bertahan hidup dengan racun di dalam tubuhnya.

Berdasarkan hasil itu, Abderemane-Ali menduga kemungkinan besar katak itu menggunakan strategi sekuestrasi untuk menghindari keracunan otomatis dengan menggunakan sesuatu yang disebutnya "spon protein".

Katak kemungkinan menghasilkan protein yang dapat menyerap racun dan menahannya. Ini berarti racun tidak pernah memiliki kesempatan mencapai saluran protein yang rentan itu.

Baca Juga: Mengapa Katak Beracun Tidak Mati Karena Racunnya Sendiri? Ini Jawaban Ahli
Merinding! Penampakan Makhluk Aneh Terdampar di Pinggir Pantai, Alien?

Salah satu spesies katak yang menggunakan strategi sequestration adalah katak Amerika (Rana catesbeiana). Katak ini menghasilkan protein yang disebut saxiphilin untuk mengikat dan memblokir toksin saxitoxin.

Saxiphilin saat ini sedang dipelajari sebagai solusi potensial untuk menetralkan racun yang masuk ke dalam pasokan air pada ganggang berbahaya.

Video terkait:

 

Video Terkait