Alasan KKP Larang Perdagangan Karang Hias Ilegal di Perairan Nasional

Ilustrasi - Terumbu karang.(KKP)

Editor: Arif Sodhiq - Jumat, 26 November 2021 | 20:10 WIB

Sariagri - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan larangan perdagangan karang hias ilegal di kawasan perairan nasional. Hal itu tidak selaras dengan prinsip ekonomi biru yang dicanangkan pemerintah.

"Tidak boleh ada lagi usaha perdagangan karang hias ilegal, khususnya dari pengambilan alam," ujar Plt. Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP Pamuji Lestari, Jumat (26/11/2021).

Pamuji Lestari menegaskan KKP mengatur ketat pengambilan karang di alam dan budidaya karang di seluruh perairan Indonesia sesuai Undang-undang Cipta Kerja untuk mencegah perdagangan karang ilegal.

Dia sangat menyayangkan masih ditemukannya kasus pelaku peredaran karang ilegal. Padahal tata cara pengambilan karang hias di alam dan budidaya telah diatur pemerintah dan dapat dilakukan masyarakat dengan mengikuti ketentuan yang berlaku.

Untuk diketahui, KKP melalui Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) Wilayah Kerja Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah melakukan pelepasliaran koral/karang hias hasil sitaan bersama Unit Penegakan Hukum Direktorat Polairud Polda NTB di lepas Pantai Montong, Desa Meninting, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat pada 20 November 2021 lalu.

Kepala BPSPL Denpasar, Permana Yudiarso menerangkan ditemukan 60 boks styrofoam berisi 2.520 pcs koral hidup (karang hias) di dalam sebuah truk. Pengemudi truk, kernet dan barang bukti telah diserahkan ke Unit Penegakan Hukum Direktorat Polairud Polda NTB guna proses hukum lebih lanjut.

"Hasil pengamatan terhadap jenis-jenis karang hias sebelum dilepasliarkan sebagian besar berupa karang hias hasil pengambilan alam. Beberapa karang hias memiliki substrat, namun tidak berlabel (tagging) dan bahan perekatnya antara karang hias dan substrat terlihat masih baru," katanya.

Selain itu, ungkap Yudiarso, terlihat jelas bekas patahan baru karang hias di bagian pangkal karang hias itu yang diduga akibat pencongkelan dengan benda keras atau tajam.

Yudiarso menambahkan ukuran karang hias bervariasi antara 10 cm hingga 15 cm yang didominasi genus Euphyllia spp. dan karang masif Goniopora spp. Laju pertumbuhan karang hias ini tergolong lambat, masing-masing sekitar 30 mm/tahun dan 11 mm/tahun.

Baca Juga: Alasan KKP Larang Perdagangan Karang Hias Ilegal di Perairan Nasional
Ternyata Ini Fungsi Terumbu Karang untuk Kehidupan di Laut dan Lingkungan

Dia menambahkan karang hias itu berasal dari perairan Selat Sape, Kabupaten Bima dan dikirim ke Denpasar, Bali dan Banyuwangi, Jawa Timur.

Sesuai dengan kebijakan ekonomi biru yang diterapkan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, laut dan terumbu karang tidak dapat dipisahkan mengingat perannya yang saling berkesinambungan dan dapat menopang kebutuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Video terkait:

Video Terkait