Penjelasan Ahli Mengenai Prediksi Tenggelamnya Jakarta

Ilustrasi Jakarta tenggelam. (coastal.climatecentral.org)

Editor: M Kautsar - Selasa, 24 Agustus 2021 | 17:50 WIB

Sariagri - Data analisis bisnis Verisk Maplecroft (12/5) merilis data yang menyebut bahwa DKI Jakarta berada di ranking tertinggi kota paling rentan krisis iklim dari 576 kota besar di dunia. Laporan data inilah yang memicu Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memprediksi Jakarta akan tenggelam pada 2030 jika tidak berbenah dari sekarang.

Pernyataan yang telah dilontarkan Joe Biden saat berada di kantor Dinas Intelijen Amerika Serikat pada Selasa (27/7) itu sontak membuat geger masyarakat Indonesia.

Joe memprediksi DKI Jakarta bakal tenggelam pada 10 tahun mendatang. Ia mengingatkan mengenai perubahan iklim yang sangat cepat menjadi ancaman serius bagi Indonesia, khususnya DKI Jakarta.

Pendapat yang disampaikan Joe segera mendapat respon dari Kepala Environmental Engineering, Universitas Airlangga, Eko Prasetyo Kuncoro.

Eko mengatakan fenomena pemanasan global menjadi penyebab para ahli, ilmuwan, dan akademisi memprediksi DKI Jakarta dan 112 kota di Jawa bagian utara bakal tenggelam pada 2030.

“Sebenarnya apakah hal itu mutlak? Kita nggak bisa mengatakan hal itu mutlak karena kendalinya kan nggak di tangan kita, tapi kendali tersebut berada ditangan Yang Kuasa,” kata Eko Prasetyo Kuncoro kepada Sariagri, Senin (23/8).

Meskipun demikian, imbuh Eko, secara rasionalitas pemanasan global ini tidak dapat terelakkan dan memiliki efek yang sangat banyak. “Salah Satu efek yang sangat dirasa oleh masyarakat dunia terkait dengan pemanasan global adalah perubahan iklim yang menyebabkan kenaikan temperatur air laut sehingga menyebabkan muka air laut relatif mengembang dan memiliki volume banyak,” papar dosen asal Kediri itu.

Selain itu, Eko menjelaskan gletser di kutub yang mencair juga menjadi salah satu penyebab kenaikan temperatur air laut sehingga meninggi di permukaan laut. 

Selanjutnya, terkait dengan pantai utara Jawa yang terancam tenggelam, Eko mengungkapkan tidak hanya terjadi dikarenakan sea level raise tetapi juga terdapat faktor lain yakni, pemakaian air tanah.

“Awalnya permukaan tanah turun kemudian permukaan air lautnya naik. Nah, kombinasi inilah yang menyebabkan sebagian kota itu akan tenggelam,” tambahnya.

Eko mengamati beberapa daerah yang diprediksi tenggelam itu berada di kawasan sea level raise seperti Jakarta Utara, Semarang, Demak, dan Pekalongan. 

“Muka air laut ini diprediksi memang sumber satu dengan sumber lain memiliki perbedaan angkanya, tetapi dari tahun 2001-2009 daerah-daerah tersebut mengalami kenaikan air muka laut antara 1 sampai 1,5 meter,” jelasnya.

Lebih lanjut, Eko memiliki pandangan mengapa para pakar lebih menyorot DKI Jakarta yang diprediksi bakal tenggelam daripada kota-kota lain di Indonesia.

“Dalam konteks pentingnya suatu wilayah maka saya pikir Jakarta sebagai representasi dari sebuah ibukota negara dan penduduknya sangat padat sehingga dijadikan sebuah contoh,” ucapnya.

Namun demikian, Eko mengatakan sejauh ini pemerintah sudah memiliki program bahkan BAPPENAS sudah memiliki rencana tentang Rencana Adaptasi Nasional Perubahan Iklim.

“Beberapa sektor yang dijadikan target utama salah satunya adalah marine and coastal sector atau sektor pesisir, pantai, dan laut,” ungkapnya.

Dalam rencana adaptasi itu dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu adaptasi proteksi, adaptasi akomodasi, dan adaptasi regret. Lebih lanjut, Eko memaparkan satu persatu ketiga adaptasi itu. 

“Pertama, penerapan adaptasi proteksi dengan dilihat dari pembangunan tanggul laut, seperti di Jakarta Utara,” tandas dosen lulusan Industrial Process Engineering, Universite de Technologie de Compagnie, Perancis tahun 2000 itu.

Eko meningatkan seiring dengan berjalannya waktu, muka air laut juga tinggi. Jadi terkadang air laut masih bisa menggenangi pemukiman warga, akibat perubahan iklim.

Kedua, Eko memberikan penjelasan terkait dengan adaptasi akomodasi. Dalam hal ini bisa dilihat dari pengerukan tanah, dan meninggikan bangunan.

“Kalau contohnya bisa dilihat dari membuat bangunan seperti ada tiang-tiangnya,” tambahnya. 

Ketiga, Eko menegaskan terkait dengan adaptasi regret. Dalam hal ini dapat dilihat dari meninggalkan zona-zona dan daerah-daerah yang diprediksi bakal tergenang.

Selain itu, ia mengatakan ada juga yang perlu untuk mengantisipasi DKI Jakarta agar tidak tenggelam yakni, infrastruktur, teknologi, capacity building, dan government.

“Sebagian besar dari ketiga adaptasi itu sebenarnya lebih mengarah ke infrastruktur,” tekannya.

Lulusan Doctor from Environmental Science and Engineering, Ecole Nationale Superieure des Mines de Saint-Etienne Universite Jean Monnet de Science Etienne, Prancis tahun 2006 itu menekankan teknologi juga harus digunakan untuk memantau dan mengantisipasi agar DKI Jakarta dan 112 kota di Indonesia tidak tenggelam pada masa mendatang.

“Saya pikir teknologi juga diperlukan untuk mengantisipasi agar Jakarta tidak tenggelam pada masa mendatang,” ujarnya.

Baca Juga: Penjelasan Ahli Mengenai Prediksi Tenggelamnya Jakarta
Komisi IV DPR: Karamnya 14 Kapal Nelayan Kalbar Harus Jadi Pelajaran Penting KKP

Pada akhir, Eko memberikan contoh penggunaan teknologi seperti peringatan dini. Selain itu, capacity building juga sangat penting. Hal ini tidak terlepas dari pemberdayaan pada masyarakat setempat.

“Saya rasa dengan adanya capacity building dapat menunjang pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan pemerintah setempat, dan organisasi-organisasi masyarakat juga bisa diberdayakan dan dimanfaatkan untuk berkolaborasi,” pungkasnya.

Video Terkait