Berawal dari Hobi, Fishpreneur Ini Sukses Jadi Eksportir Ikan Cupang ke Amerika

Giovanni_Alif menunjukkan ikan cupang koleksinya. (Sariagri/Arief L)

Penulis: Tatang Adhiwidharta, Editor: Reza P - Jumat, 20 Agustus 2021 | 19:30 WIB

Sariagri - Berawal dari hobi kemudian menjadi ladang bisnis. Sepenggal kalimat itu menjadi sambutan pembuka dalam acara webinar FISHPRENEUR yang disampaikan Giovanni Alif Dyer Wahjudy, pendiri sekaligus owner Betta Fish yang bergerak dibidang budidaya dan eksportir ikan cupang.

Dalam seminar online yang diselenggarakan oleh Departemen Kewirausahaan (KWU) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya beberapa waktu lalu tersebut, Giovanni meluangkan waktu di tengah padatnya kesibukan ia dalam mengelola usaha ikan cupang.

Acara ini begitu menarik hingga dihadiri lebih dari 300 peserta baik dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum. Sedangkan topik bahasan yang disampaikan Giovanni selaku nara sumber tunggal yakni Pengembangan Hobi dan Minat di Bidang Perikanan Menjadi Peluang Usaha di Usia Muda.

Giovanni mengaku sejak SMA sudah berani melangkah terjun di bidang usaha budidaya ikan cupang dan hasilnya sudah mulai bisa ia nikmati saat masih kuliah.

“Pada awal mula saya mencoba budidaya tiga jenis ikan cupang, yakni, cupang alam, hias, dan adu. Namun seiring waktu karena pasar ikan cupang hias lebih luas, akhirnya saya hanya menekuni satu jenis saja yakni ikan cupang hias," akunya kepada Sariagri, Jumat (20/8/2021).

Selain memiliki pasar terbesar baik dalam negeri maupun luar negeri, ikan cupang hias juga berkesempatan ikut kompetisi.

“Hal inilah yang membuat kenapa ikan cupang hias harganya lebih mahal dan pasarnya jauh lebih luas dibandingkan jenis ikan cupang lain, “ imbuhnya.  

Alumni FPK UNAIR lulusan tahun 2016 ini menambahkan tidak cukup sampai disitu saja, pasar ikan cupang hias juga dapat memenuhi kebutuhan hobi dari konsumen bahkan untuk sebuah percobaan.

“Cupang hias ini kompetisinya lebih banyak, pasarnya lebih banyak. Bukan hanya dijadikan ikan kompetisi, ada ikan buat hobi dan ada juga yang sekadar untuk percobaan-percobaan,” tandasnya. 

Sedangkan jenis Ikan cupang hias terbagi menjadi Halfmoon, Double tail, Serit, Plakad, dan Giant.

Giovanni juga memaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi usaha ikan cupang. Salah satu faktor pendukungnya, yaitu Indonesia yang beriklim tropis. Hampir di seluruh Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Filipina, semuanya beternak ikan cupang. 

Tujuan utamanya, yaitu untuk diekspor ke negara beriklim non-tropis yang susah untuk budidaya ikan. Jika dilakukan pada tempat yang non-tropis, budidaya harus menggunakan sinar ultraviolet.

“Ikan yang tidak terkena matahari hasilnya akan kurang bagus. Hasil breeding-annya itu tidak bisa sebagus yang terkena matahari,” katanya.

Faktor penghambat dari budidaya ikan cupang, yaitu menjamurnya peternak maupun pedagang musiman. Tentu hal itu akan menjadikan persaingan yang lebih ketat. Hal tersebut juga pasti menyebabkan penurunan jumlah konsumen. 

“Ini wajar terjadi bila suatu usaha sedang naik daun akan banyak orang berusaha menirunya. Tinggal kita bisa atau tidak bertahan dengan passion yang dimiliki. Jika kita sudah bisa bertahan dengan passion, tentu kita akan bertahan,” kata dia.

Kualitas ikan cupang hias untuk kontes bila juara, maka akan meningkatkan harga jual ikan tersebut.

Menurut Giovanni, pasar luar negeri untuk ikan cupang hias biasanya terdapat syarat-syarat yang diperlukan. Umumnya bila hendak ingin memasarkan ke luar negeri, foto yang digunakan/dipajang haruslah bagus dan tanpa editan. 

Kemudian, umumnya ikan yang diekspor memiliki umur yang masih muda. Hal tersebut bertujuan agar ikan lebih tahan saat pengiriman yang memakan waktu lama. Pelayanan terbaik seperti berperilaku jujur dengan menunjukkan kelebihan dan kekurangan ikan juga diperlukan agar para konsumen tidak curiga.

“Saya biasanya kalau mau ngirim, ikan itu saya puasakan terlebih dahulu agar tidak buang kotoran. Jika ikan tersebut buang kotoran dan bercampur dengan air, maka akan muncul amonia. Sehingga selama pengiriman nanti ikan akan dalam kondisi tidur,” tuturnya.

Satu lagi alasan yang membuat dirinya jatuh hati dengan ikan cupang adalah perputaran uangnya juga cepat.

“Kalau kita sudah tekun dan benar-benar mencintai hobi ini maka otomatis rejeki akan cepat datang. Apalagi jika nama kita sudah dikenal di luar negeri, maka pundi-pundi uang itu bakal masuk ke kantong kita, karena dicari buyers,” terangnya.

Pria berkacamata tersebut menuturkan dalam budidaya ikan cupang wajib pertimbangan kualitas air yang digunakan.

”Ikan cupang untuk hias, misalnya, enggak bisa pakai air sumur. Kalau di rumah, saya pakai air galon. Minimal galon isi ulang,” ujarnya.

Giovanni menjelaskan kualitas ikan cupang Indonesia sangat bagus bagi pasar luar negeri. Di Amerika, terutama di Miami dan California, ikan cupang miliknya sangat disukai.

”Di sana dipakai untuk kontes ikan cupang juga,” ucapnya.

Kualitas ikan cupang di Amerika tidak bisa sebagus di Indonesia. Sebab, cuaca di Amerika kurang cocok. Berbeda dengan Indonesia yang memiliki cuaca tropis. Karena itu, warga Amerika harus memakai matahari buatan, heater atau pemanas, lampu ultraviolet, dan sebagainya.

Cuaca di Indonesia Sangat Membantu Kualitas Cupang

Menurut dia, cuaca di Indonesia sangat membantu membentuk kualitas ikan cupang. Untuk meningkatkan kualitas misalnya, ikan setiap hari harus dijemur.

”Tiap hari harus dijemur 10–15 menit. Itu biar bulunya buka,” ujarnya. Ikan cupang memiliki banyak keunggulan. Salah satunya soal perawatan. Makanannya juga cukup mudah.

“Diberi cacing beku mau. Cacing sutra juga oke. Uget-uget alias jentik nyamuk pun disantap. Dalam kondisi normal, ikan cupang mampu bertahan hingga dua minggu tanpa makan, “ urainya.

Untuk event khusus seperti kontes ikan hias, biasanya ikan cupang harus disalon dulu. Ekor ikan dipotong biar rapi. Tapi, tidak semua kontes ikan cupang membolehkan hal itu.

Proses perapian tersebut biasanya sekitar dua pekan sebelum lomba. Setelah dipotong, ekor itu akan tumbuh lebih rapi. Untuk biaya nyalon tersebut, per ikan dipatok Rp25.000-Rp50.000.

Saat ini, Giovanni fokus menjual ikan cupang di pasar ikan Gunungsari. Di sana, dia memiliki sebuah outlet khusus ikan cupang. Berbagai kualitas ikan cupang tersedia. Mulai yang harganya puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu.

”Yang paling murah biasanya Rp 25–50 ribu. Yang paling mahal bisa sampai Rp 300 ribu. Untuk kualitas ekspor sampai USD 80 per ekor,” jelasnya.

Untuk pengiriman ikan dibungkus ke dalam kantong plastik dan ditambahkan oksigen. Setelah itu, ikan ditaruh dalam boks styrofoam dan dikirim. Ikan akan melalui proses karantina. Hingga sampai Amerika mungkin dibutuhkan waktu tujuh hari.

Baca Juga: Berawal dari Hobi, Fishpreneur Ini Sukses Jadi Eksportir Ikan Cupang ke Amerika
Kabar Baik! Indonesia Naik 2 Peringkat sebagai Eksportir Produk Perikanan Dunia

”Dan ikan itu tidak dibuka atau diberi makan sama sekali. Ikan cupang itu kuat,” kata dia.

Saat ini dirinya mampu menjual dalam sepekan minimal 2.000 ekor ke berbagai pasar di Indonesia maupun ekspor.

“Tidak bisa serta-merta mengekspor ikan yang kualitasnya biasa-biasa saja. Minimal yang diekspor itu sudah pasti masuk nominasi kalau dilombakan,” bebernya.

Dengan begitu, ia mampu menjaga kualitas dan kepercayaan konsumennya di luar negeri. Jika ada yang kualitas super, langsung foto ikan cupang hias dikirim via e-mail ke pelanggan.

“Ikan kualitas super ini biasa saya ekspor ke Amerika,” pungkasnya.

Video Terkait