Akibat Pandemi, BRGM Ubah Target Rehabilitasi Mangrove 2021

Warga menanam tanaman mangrove di kawasan Wonorejo, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (21/4/2021). Aksi menanam seribu tanaman mangrove yang dilakukan sejumlah aktivis dari Tunas Hijau dan pegawai dari 'Williams Sonoma' itu dalam rangka memperingati Hari Bumi. (Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Editor: M Kautsar - Senin, 2 Agustus 2021 | 15:50 WIB

SariAgri - Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) menurunkan target rehabilitasi mangrove untuk tahun ini menjadi sekitar 33.000 hektare (ha) dari target semula 83.000 ha.

Dalam diskusi virtual yang dipantau dari Jakarta pada Senin, Kepala Kelompok Kerja Rehabilitasi Mangrove Wilayah Sumatera BRGM, Onesimus Patiung menjelaskan bahwa terdapat total target 600.000 ha lahan mangrove yang harus direhabilitasi BRGM sampai 2024.

Untuk 2021, BRGM menargetkan akan melakukan rehabilitasi terhadap 83.000 ha di sembilan provinsi wilayah kerjanya.

"Target 83.000 ha ini saat ini juga tidak bisa kami kejar. Kenapa tidak bisa terkejar? Karena tadi datanya belum klop, yang kemudian waktunya juga tidak cukup dan adanya kepentingan negara saat ini bahwa luasan kami akan dihilangkan kurang lebih 50.000 ha," kata Onesimus.

Pengurangan target tersebut dilakukan karena pemerintah fokus terhadap penanganan COVID-19 sehingga anggaran mengalami realokasi untuk mengatasi pandemi.

"Sehingga target kami saat ini adalah 33.000 ha, artinya target kami tahun depan sampai dengan 2024 ini akan semakin besar karena kami tidak akan berkurang dari target 600.000 ha," ucap dia.

Dalam kesempatan itu dia juga menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara dengan ekosistem mangrove terluas di dunia. Dengan dari 16,53 juta ha hutan mangrove dunia sekitar 20 persen atau 3,31 juta ha di antaranya berada di Indonesia.

Mangrove yang memiliki kondisi baik di Indonesia adalah sekitar 2,67 juta ha dan yang berada di kondisi kritis adalah sekitar 637.624 ha.

Rinciannya lahan mangrove dengan status kritis yang berada di dalam kawasan lindung adalah sekitar 460.244 ha sementara di luar kawasan atau area penggunaan lain yang memiliki status kritis adalah 177.380 ha.

Video Terkait