Rumput Laut Bisa Atasi Limbah Plastik dan Perubahan Iklim

Pembudidaya rumput laut di Lampung Selatan. (Antara/HO- Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 28 Juli 2021 | 10:45 WIB

SariAgri - Rumput laut merupakan salah satu sumber daya hayati yang sangat melimpah di perairan Indonesia. Komoditas ini bisa digunakan untuk mengatasi sejumlah persoalan global seperti limbah plastik dan perubahan iklim.

"Inovasi menjadi kata kunci dalam pengembangan produk turunan rumput laut," kata Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Artati Widiarti dalam webinar.

Artati mencontohkan rumput laut bisa diolah menjadi bioplastik pengganti kemasan plastik yang sudah ada selama ini. Dia mengingatkan hasil kajian menyebutkan rumput laut jenis asparagopsis taxiformis bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak ruminansia yang mampu mengurangi emisi gas metana.

"Ketika dunia menempatkan climate change sebagai isu utama, pelaku usaha bisa mem-branding rumput laut sebagai tanaman yang mampu menyerap karbondioksida," katanya.

Dikatakan Artati, jumlah rumput laut diperkirakan 8,6 persen dari total biota di laut. Sementara luas wilayah habitat rumput laut di Indonesia 1,2 juta hektare atau terbesar di dunia.

"Kemelimpahan sumber daya hayati rumput laut ini tentunya merupakan anugerah bagi bangsa Indonesia yang dapat didayagunakan sebagai penggerak ekonomi nasional, penyedia lapangan kerja, penghasil devisa serta menjadi sumber pangan dan gizi nasional," katanya.

Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP, Machmud menjelaskan saat ini pemanfaatan rumput laut untuk konsumsi manusia menyumbang lebih dari 77 persen dari keseluruhan pangsa pasar global. Kebutuhan itu diproyeksikan meningkat di masa mendatang karena perubahan gaya hidup yang lebih sehat dan meningkatnya populasi penduduk.

"Peningkatan permintaan terjadi karena meningkatnya permintaan rumput laut untuk industri pangan, pakan, obat-obatan dan kosmetik," kata Machmud.

Sebagai bentuk dukungan, Machmud memastikan pemerintah telah melakukan langkah serius dalam pengembangan industri rumput laut nasional melalui Perpres Nomor 33/2019.

Langkah penguatan industri rumput laut nasional diimplementasikan dalam beberapa program, diantaranya penelitian pengembangan budidaya jenis (spesies dan/atau varietas) baru, inovasi teknologi produk setengah jadi dan produk akhir, serta pasar produk rumput laut nasional dan global.

Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua setelah Tiongkok. Volume ekspor rumput laut Indonesia tahun 2020 sebesar 195.574 ton dengan nilai 279,58 juta dolar AS.

Baca Juga: Rumput Laut Bisa Atasi Limbah Plastik dan Perubahan Iklim
Rumput Laut Berlimpah, Pemanfaatan Limbahnya Menjadi Tantangan

Berdasarkan data Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, saat ini Indonesia memiliki kekayaan makroalga 89 suku (familia), 268 marga (genus) dan 911 jenis (species).

Rumput laut dari kelas alga merah (Rhodophyta) menempati urutan terbanyak dari jenis lainnya yang tumbuh di perairan laut Indonesia yaitu sekitar 564 jenis, disusul alga hijau (Chlorophyta) sekitar 201 jenis dan alga coklat (Ochrophyta) sekitar 146.

Video terkait:

Video Terkait