Teknologi NASA Bantu Penyelamatan Hiu Paus dari Ambang Kepunahan

Hiu Paus. (Edition.cnn)

Penulis: Dera, Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 11 Februari 2021 | 11:45 WIB

SariAgri - Populasi hiu paus di seluruh dunia telah menurun hingga 50% selama 75 tahun terakhir. Meskipun dilindungi di banyak negara, hiu paus masih dibunuh oleh industri penangkapan ikan untuk diambil siripnya.

Tak sampai disitu, keberlangsung hidup hiu paus juga terancam oleh pengeboran minyak dan gas, pemogokan kapal dan perubahan iklim.

Dilansir CNN, untuk membantu melindungi spesies hiu paus, ahli biologi kelautan Australia Brad Norman membangun The Wildbook for Whale Sharks. Sebuah database identifikasi foto yang online pada tahun 2003.

Lewat database ini, seluruh anggota masyarakat dan ilmuwan serta operator tur hiu paus di seluruh dunia dapat menyumbangkan foto hiu paus ke sistem dengan menggunakan teknologi NASA untuk memetakan lokasi mereka dan melacak pergerakan mereka.

Saat ini, database tersebut menampung lebih dari 70.000 pengiriman ke lebih dari 50 negara, menjadikannya salah satu proyek konservasi berjaringan publik terbesar di dunia.

Norman menjelaskan, gambar yang dikirimkan ke The Wildbook for Whale Sharks dianalisis dengan algoritma yang memindai bintik dan garis pada kulit hewan, seunik sidik jari manusia. Algoritma mengidentifikasi hiu dengan mencari pola yang cocok di database.

Diadaptasi dari teknologi yang pertama kali dikembangkan untuk program Teleskop Luar Angkasa Hubble NASA, algoritme ini bekerja untuk hiu paus karena tanda kulit mereka membentuk pola yang mirip dengan bintang di langit malam.

Norman mengatakan bahwa secara kolektif, data lokasi hiu paus dan rute migrasi menginformasikan keputusan tentang strategi pengelolaan untuk perlindungan habitat.

Terlepas dari ukurannya yang besar, hiu paus dapat tumbuh hingga 20 meter, raksasa yang lembut ini tidak berbahaya bagi perenang. Memakan plankton dan organisme laut kecil, mereka berlayar dengan kecepatan maksimal tiga mil per jam, memungkinkan perenang snorkel dan penyelam untuk mendekat.

Dirinya telah mempelajari makhluk karismatik ini selama lebih dari 25 tahun. Dia pertama kali berenang bersama hiu paus di perairan biru kehijauan di terumbu Ningaloo di pantai utara Australia Barat.

"Itu adalah salah satu pengalaman paling menakjubkan yang pernah saya alami, aku tidak akan pernah melupakannya," kenangnya.

Norman mengatakan, setiap orang boleh dan berkesempatan berenang dengan hiu paus. Tetapi lebih banyak perahu, perenang snorkel dan penyelam di kawasan hiu paus bisa menjadi masalah jika tak diatur secara tepat.

Di Australia Barat, operator tur hiu paus diatur secara ketat dengan batasan jumlah orang dan kapal berlisensi di perairan dimana hiu paus berada.

Namun, regulasi dan penegakan hukum masih lemah di tempat lain. Di Maladewa, hiu paus adalah atraksi yang populer, tetapi pedoman pemerintah yang dirancang untuk melindungi hiu sering kali dilanggar. Hal ini dapat menyebabkan stres bagi hewan, sementara cedera akibat tabrakan kapal mempengaruhi perkembangan dan kemampuan mereka melakukan perjalanan jarak jauh.

Baca Juga: Teknologi NASA Bantu Penyelamatan Hiu Paus dari Ambang Kepunahan
KKP Selamatkan Paus Sperma Kerdil di Kalimantan Barat

Hiu paus di Filipina secara rutin diberikan makanan untuk menarik mereka ke tempat di mana pengunjung mudah melihatnya. Hal ini dapat mengubah pola penyelaman dan metabolisme hiu. Keramaian akibat aktivitas wisata dan pemberian makan juga dapat menyebabkan degradasi terumbu karang.

Norman berharap dapat mengumpulkan data lebih banyak dari seluruh dunia untuk memperkuat upaya konservasi. Saat ini, dia mencari apa yang dia sebut "Holy Grail", mencari tahu ke mana hiu paus pergi kawin. Menurutnya, melindungi tempat berkembang biak mereka adalah "satu hal besar" yang dibutuhkan untuk menyelamatkan spesies dalam jangka panjang.

Video Terkait