Budidaya Lele dan Olahan Produk Perikanan Peluang di Masa Pandemi COVID-19

Ilustrasi ikan lele (Foto: KKP)

Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 27 Agustus 2020 | 06:00 WIB

SariAgri -  Budidaya lele dan olahan produk kelautan perikanan dinilai sebagai oasis di tengah kesulitan ekonomi akibat pandemi COVID-19. Kegiatan ini mampu menyelamatkan atau setidaknya membantu menopang perekonomian sebagian masyarakat.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan Komisi IV dpr RI telah menggelar pelatihan aspirasi pembesaran ikan lele dan pelatihan aspirasi olahan rumput laut. Sebelumnya juga telah digelar pelatihan aspirasi diversifikasi olahan ikan.

Pembesaran ikan lele

Pelatihan aspirasi pembesaran ikan lele ditujukan bagi pelaku utama dan pelaku usaha perikanan, khususnya pembudidaya dan pengolah ikan. Pelatihan ini diselenggarakan melalui Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BP3) Banyuwangi secara daring dengan 100 orang peserta dari provinsi Bali. Rinciannya 25 peserta dari Kota Denpasar, 25 orang (Kabupaten Bangli), 25 orang (Kabupaten Gianyar) dan 25 orang (Kabupaten Badung).

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Sjarief Widjaja mengatakan, pelatihan disesuaikan dengan karakteristik lingkungan sosial budaya masyarakat Bali yang kaya akan bahan baku ikan air tawar, salah satunya lele.

Dengan penyelenggaraan pelatihan ini, masyarakat diberikan pengetahuan dan keterampilan pembesaran ikan lele mulai persiapan kolam hingga panen. Keahlian ini dibutuhkan sebagai bekal munculnya wirausaha baru di sektor perikanan.

“Harapan kami, satu beserta dapat juga merangkul 10 orang pelaku usaha perikanan untuk melakukan usaha di bidang perikanan sehingga dapat turut membangun perekonomian perikanan nasional,” ujar Sjarief.

Sementara Anggota Komisi IV DPR RI, A.A. Bagus Hadi Mahendra Putra meyakini ilmu yang diberikan dapat bermanfaat untuk menopang perekonomian masyarakat.

“Pelatihan seperti ini sangat berguna. Terlebih di situasi sekarang ini banyak sektor usaha yang terganggu. Daripada bingung tidak bisa melakukan apa-apa, lebih baik kita besarkan ikan lele. Selain untuk konsumsi keluarga tentunya juga dapat dijual,” katanya.

Pengolahan rumput laut

KKP melalui BP3 Bitung menggelar pelatihan pengolahan rumput laut menjadi penganan kekinian berupa mi dan jus rumput laut. Pelatihan diikuti 75 orang pelaku utama kelautan dan perikanan asal Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan.

Pada pelatihan ini, peserta tidak hanya diajarkan cara membuat penganan berbahan dasar rumput laut tetapi juga cara memilih bahan baku yang baik, penyediaan sarana prasarana pengolahan yang memenuhi standar higienitas, proses pengolahan, pengemasan, pemasaran secara online melalui media sosial maupun platform e-commerce, hingga pengurusan izin edar di Badan Pengawas obat dan makanan (BPOM), Dinas Kesehatan, maupun Dinas Perdagangan.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Sjarief Widjaja mengungkapkan, selama ini hasil perikanan masih diperdagangkan dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai ekonominya kurang maksimal. Karena itu, pemerintah menggelar pelatihan agar ada nilai tambah (added value) pada produk yang dihasilkan.

“Rumput laut ini bisa kita olah jadi tepung. Tepungnya bisa dibuat jadi aneka roti, bakmi, donat, bahkan jus atau sirup,” terang Sjarief.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin mengatakan pihaknya siap bekerja sama dengan kkp menyelenggarakan berbagai kegiatan serupa untuk mendorong majunya sektor kelautan dan perikanan Indonesia.

Diversifikasi olahan ikan

Pelatihan aspirasi diversifkasi olahan ikan di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 100 masyarakat yang berasal dari Sumba Timur dan Belu mengikuti pelatihan. Sebagian besar merupakan kelompok pengolah dan pemasar produk perikanan serta istri nelayan.

Kepala BRSDM Sjarief Widjaja mengatakan, pelatihan ini merupakan upaya KKP untuk meningkatkan kapasitas sekaligus mengisi kebutuhan pangan masyarakat melalui penyediaan protein dari laut. Menurut dia, kebutuhan pangan di tengah pandemi Covid-19 saat ini tak lagi bisa dihindari. Bahkan, angkanya cenderung meningkat karena masyarakat mengalami pembatasan gerak. Hal ini menjadi peluang bagi masyarakat KP.

“Dengan keterbatasan sarana/prasarana, tentu saja tidak semua hasil produksi perikanan bisa kita kirim ke luar daerah sehingga harus tersimpan di cold storage. Tetapi ini menjadi peluang bagi para ibu-ibu, keluarga yang mungkin bapak-bapaknya mencari ikan di laut atau berbudidaya. Kita bisa olah. Kita tingkatkan nilai tambahnya,” katanya.

Melalui pelatihan ini, dia pun mendorong para peserta agar menjadi wirausaha-wirausaha baru. Dengan begitu, produk-produk olahan yang dijual dapat menjadi penghasilan tambahan bagi keluarganya.

Senada dengan itu, Anggota Komisi IV DPR RI, Yohanis Fransiskus Lema mengungkapkan Provinsi NTT merupakan provinsi kelautan yang sangat kaya akan potensi perikanan. Dengan luas laut lebih dari 70% wilayahnya, masa depan NTT berada di tangan nelayan.

“Potensi perikanannya luar biasa besar tapi yang menjadi persoalan buat pengembangan sektor kelautan dan perikanan ini ada pada aspek inovasi dan kreasi. Juga pada aspek pemasaran,” ucap Yohanis.

Video Terkait



Baca Juga: Budidaya Lele dan Olahan Produk Perikanan Peluang di Masa Pandemi COVID-19
KKP Dorong Produk Mi dan Jus Berbahan Rumput Laut