Imuwan Jepang Temukan Metode Budidaya Cumi-cumi yang Andal

Ilustrasi cumi-cumi (Foto: Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 30 November 2022 | 12:15 WIB

Sariagri - Para ilmuwan di Jepang telah mengembangkan metode inovatif budidaya cumi-cumi yang dapat mengatasi kekurangan makanan laut. Para peneliti di Institut Sains dan Teknologi Okinawa (OIST), mengatakan sistem mereka menghasilkan pasokan cumi-cumi yang andal dan berpotensi untuk dikomersialkan.

Cumi banyak dikonsumsi di Jepang dan sering dimakan mentah seperti sushi atau sashimi. Tetapi stok di perairan negara itu telah menurun selama beberapa dekade.

Penangkapan cumi-cumi tahunan di Jepang mencapai puncaknya pada 1989 yang mencapai 733.594 ton, namun pada 2018 turun drastis menjadi 83.593 ton. Untuk mengisi kekosongan pasokan, negara itu sekarang mengimpor cumi-cumi olahan dalam jumlah besar dari Amerika Selatan.

Menurunnya tangkapan cumi-cumi liar di Jepang dinilai akibat kenaikan suhu laut yang disebabkan oleh pemanasan global, yang menghambat kemampuan cumi untuk bertelur dan tumbuh. Sebab lain adalah penangkapan ikan termasuk cumi-cumi yang berlebihan.



Selama ini cumi-cumi sulit dibudidayakan secara komersial lantaran makhluk tersebut dikenal agresif dan peka terhadap aliran air, serta memiliki preferensi makanan tertentu dan siklus hidup yang kompleks.

Namun para ahli di OIST telah membuat terobosan dengan menyempurnakan metode yang murah dan efisien untuk budidaya cumi-cumi serta menghasilkan tingkat penetasan dan kelangsungan hidup yang tinggi.

"Dengan memelihara satu garis keturunan cumi-cumi selama 10 generasi dalam kondisi laboratorium yang sangat terbatas, kami menunjukkan bahwa budidaya cumi-cumi dapat bekerja dengan aman," kata Zden?k Lajbner, peneliti OIST yang memimpin proyek tersebut, se[erti dikutip dari theguardian.com.

Baca Juga: Imuwan Jepang Temukan Metode Budidaya Cumi-cumi yang Andal
High-five Kembangkan Akuakultur Vertikal Perkotaan Pertama di Dunia



Namun seperti budidaya gurita, budidaya cumi-cumi juga mendapat tentangan keras dari kelompok lingkungan karena dianggap tidak memperhatikan faktor kesejahteraan hewan. Budidaya cumi-cumi juga dinilai tidak berkelanjutan karena membutuhkan pakan yang terbuat dari spesies laut lain.