Peneliti Ungkap Produk Pangan Laut Mampu Atasi Kerawanan Pangan

Ilustrasi rumput laut (Pixabay)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Reza P - Minggu, 27 November 2022 | 18:00 WIB

Sariagri - Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN Ratih Pangestuti memaparkan bahwa angka kekurangan gizi anak di dunia terus meningkat sejak 2019. Kondisi tersebut disebabkan karena angka kerawanan pangan yang konsisten meningkat sejak 2014 dari 8,4 % hingga sekarang 8,9 %. Bahkan sejak 2018-2019 jumlah orang kelaparan di dunia bertambah menjadi 10 juta orang dan sebagian besar berasal dari Asia.

Untuk mengatasi kerawangan pangan, Ratih mengungkapkan bahwa masyarakat dunia bisa mulai melirik makanan laut untuk dijadikan solusi. "Mengapa makanan laut? Karena makanan laut memiliki nilai gizi, mempunyai potensi untuk dilakukan budidaya perikanan, dan dampak lingkungan dari sistem pangan darat dan laut," kata Ratih dalam acara The 1st International Conference on Food and Agricultural Sciences (ICFAS) 2022.

Ia pun menambahkan bahwa laut berpotensi memberikan sumber pangan dalam mencukupi kebutuhan masyarakat dunia. Produk pangan laut diharapkan dapat mengurangi kelaparan, kekurangan gizi, serta kemiskinan. Potensi tersebut akan semakin dibutuhkan seiring dengan bertumbuhnya populasi global dan permintaan pangan.

Selain itu, Ratih menyampaikan bahwa laut memainkan peran unik dalam menjaga keberlangsungan masalah kerawanan pangan. Beberapa peran tersebut adalah konsep produksi pangan, nutrisi, dan aksesibilitas. Menurutnya nutrisi yang terkandung dalam hasil pangan laut sangat penting dalam perkembangan kognitif khususnya bagi anak-anak, ibu hamil, dan wanita menyusui.

“Selain tiga konsep tersebut, pangan hasil laut juga menyediakan asam lemak esensial, vitamin, mineral, dan juga nutrisi lain yang tidak ditemukan dalam sumber pangan yang lain,” ujar Ratih.

Ratih menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan kekayaan lautnya, di mana 70% wilayah di Indonesia merupakan lautan, terhubung dengan banyak pulau, garis pantai sepanjang 108.000 kilometer, dan pusat dunia dalam keragaman biodiversitas.

“Laut dan sumber daya laut merupakan inti dari kekayaan Indonesia, yang hadir melalui banyak kegiatan seperti penangkapan ikan, budidaya, makanan, wisata pesisir, konsturksi kelautan, transportasi, dan lain-lain,” paparnya.

Salah satu sumber daya laut yang berpotenai yaitu rumput laut. Kurang lebih 911 spesies rumput laut telah diidentifikasi di Indonesia, namun hanya beberapa spesies rumput laut saja yang diolah menjadi makanan terutama digunakan pada sektor fikokoloid.

Baca Juga: Peneliti Ungkap Produk Pangan Laut Mampu Atasi Kerawanan Pangan
Peneliti Temukan Fosil Penyu Purba, Miliki Panjang Hampir 4 Meter

Menurut Ratih, rumput laut juga memiliki potensi manfaat kesehatan. Rumput laut kaya akan bahan-bahan bioaktif seperti polysaccharides, asam lemak, metabolit sekunder, dan lain-lain. Kandungan rumput laut yaitu Sodium oligomannate diidentifikasi dapat menjadi obat penyakit Alzheimer berdasarkan penelitian di Tiongkok.

“Iota karageenan, polisakarida sulfat dari rumput laut merah juga teridentifikasi dapat menghambat pertumbuhan virus COVID-19,” jelasnya.