Bapongka, Kearifan Lokal Turun Temurun Orang Bajo dalam Menghargai Laut

Ilustrasi masyarakat Bajo (Kemdikbud)

Penulis: Tanti Malasari, Editor: Dera - Jumat, 30 September 2022 | 18:30 WIB

Sariagri - Masyarakat Bajo yang berada di Sulawesi Tengah tidak dapat terpisahkan dengan laut. Pasalnya, dalam kesehariannya mereka sangat bergantung pada laut. Bahkan pemukiman masyarakat Bajo ini sendiri terletak di atas permukaan air laut.

Meski didominasi berada di Pulau Sulawesi saja, namun saat ini masyarakat Bajo sudah menyebar luas di seluruh penjuru Nusantara.

Sebagai masyarakat yang tinggal di laut, menangkap ikan merupakan mata pencaharian utama masyarakat Bajo atau Bajau di Kepulauan Togean yang telah dilakukan sejak lama.

Ada salah satu tradisi unik yang dimiliki masyarakat Bajo dalam menangkap ikan, yang dikenal dengan nama bapongka. Dalam melakukan penangkapan ikan ini, biasanya nelayan Bajo melakukan perjalanan hingga jauh dari pesisir pantai.

Secara umum, bapongka atau disebut juga Babangi adalah bermalam di laut selama 3 hari sampai sebulan. Bapongka ini merupakan kegiatan berlayar mencari nafkah atau hasil-hasil laut, seperti ikan, udang, lola, atau kepiting, teripang, ke daerah atau provinsi lain, selama berhari-hari hingga berminggu-minggu secara berkelompok.

Bapongka sebagai cara menghargai laut

Selain itu, keunikan lain dari tradisi bapongka adalah proses penangkapan ikan, di mana orang Bajo hanya menggunakan peralatan yang masih tradisional. Hal ini dilakukan guna menghargai dan memelihara lingkungan laut serta mencegahnya dari kerusakan.

Cara penangkapan ikan seperti ini nyatanya berdampak baik bagi kelestarian laut, khususnya biota seperti terumbu karang. Tak heran masyarakat Bajo masih mempertahankan dan menerapkan tradisi ini selama turun-temurun.

Sayangnya, ada indikasi bahwa hasil bapongka cenderung berkurang dari segi jumlah maupun ukuran hasil laut. Dikhawatirkan berkurangnya penghasilan bapongka akan mempengaruhi minat masyarakat melakukan bapongka.

Dalam kehidupan suku Bajo ada beberapa hal yang merupakan pantangan-pantangan dalam kehidupan, terutama apabila sedang melaut yang mereka sebut tapongka.

Pantangan-pantangan tersebut harus dipatuhi, sebab mereka yakin, hal ini dapat mempengaruhi hasil tangkapan. Apabila dilanggar maka akan terjadi bencana alam laut karena penguasa dalam bentuk roh yakni Mbo.

Beberapa pantangan tersebut antara lain dilarang membuang sesuatu di laut saat melakukan bapongka, baik itu membuang air cucian beras, arang kayu bekas memasak, ampas kopi, air cabe, air jahe, kulit jeruk, dan abu dapur.

Baca Juga: Bapongka, Kearifan Lokal Turun Temurun Orang Bajo dalam Menghargai Laut
Mengenal Salmon, Jenis Ikan yang Dikenal Paling Bernutrisi di Dunia

Selain itu, pantangan lainnya yaitu pada waktu hendak berlayar jauh, setelah berada di dalam perahu, tidak boleh mengeluarkan air yang ada dalam perahu sebelum perahu berjalan, dan ketika waktu berada di laut atau dalam perjalanan tidak boleh mengucapkan kata-kata kotor atau makian.

Sementara untuk istri yang suami melaut, dilarang membawa api dan menyapu di dalam rumah. Terdengar aneh, namun itulah tradisi yang mereka lakukan hingga saat ini, sebagai bentuk kearifan lokal dalam menghargai dan melestarikan alam.

Video Terkait