Teknologi Atraktor Solusi Nelayan Cumi-cumi Hadapi Degradasi Habitat

Pengembangan teknologi terapan atraktor untuk pengkayaan stok sumberdaya cumi-cumi. (Sariagri/Akbarda Winardi)

Editor: Reza P - Sabtu, 6 Agustus 2022 | 15:30 WIB

Sariagri - Tim Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University yang terdiri dari Dr Mustaruddin (ketua), Prof Mulyono dan Dr Didik Santoso mengembangkan teknologi terapan atraktor untuk pengkayaan stok sumberdaya cumi-cumi di Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.  Kegiatan ini juga melibatkan mitra dari Program Studi Biologi Universitas Mataram (Unram) yang diwakili oleh Dr Karnan yang juga merupakan alumni IPB University.  

Kegiatan yang terbagi dalam tiga kegiatan utama, yaitu sosialisasi dan pelatihan terkait atraktor, sumber daya cumi-cumi, potensi bisnisnya, dan konservasi lingkungan perairan. Bimbingan dan praktik pembuatan atraktor cumi-cumi juga turut dilakukan serta pemasangan atraktor cumi-cumi di perairan.

Dr Mustaruddin yang aktif mengajar di Departemen Pemanfaatan Sumber daya Perikanan, IPB University mengungkapkan, “Terapan teknologi atraktor membantu memecahkan masalah degradasi habitat cumi-cumi yang dikeluhkan nelayan Tanjung Luar akibat berkembangnya wisata pantai dan aktivitas pembangunan di pesisir. Jika nantinya dikuasai, nelayan punya kemandirian dalam restocking cumi-cumi, sehingga menjamin keberlanjutan penghasilan mereka dalam menangkap cumi-cumi.”

Pemasangan atraktor dapat mempercepat pemulihan stok dengan merangsang munculnya cumi-cumi baru, sehingga mengembalikan kondisi produksi cumi-cumi yang sebelumnya menurun di perairan Kecamatan Keruak, Lombok Timur.  

Perairan tersebut juga memiliki keunikan pemandangan bawah air dengan hamparan telur cumi-cuminya, sehingga menambah daya tarik wisata pantai. Pada posisi ini, terjadi sinergitas perikanan cumi dengan kegiatan pariwisata yang sebelumnya cenderung berseberangan.

Dalam sesi sosialisasi dan pelatihan, Prof Mulyono yang merupakan pakar atraktor cumi-cumi IPB University memaparkan bahwa atraktor dikembangkan dengan memanfaatkan tingkah laku dari cumi-cumi, di mana dalam memijah menempelkan telurnya pada substrat/benda-benda yang menggantung dengan lingkungan yang remang-remang. 

“Nelayan dapat mengembangkan ini secara tepat guna dengan memanfaatkan drum bekas, bambu, kawat, ban bekas, dan pipa paralon bekas. Tinggal desain dan pemasangan tali temali diperhatikan,“ ujar Prof Mulyono.

Kelompok nelayan, pengolah dan pengusaha cumi, dan pengelola Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Tanjung Luar menyambut baik penerapan teknologi tepat guna ini.

“Upaya tersebut bagus, karena ban dan drum bekas yang tadinya biasa dibuang termanfaatkan sebagai atraktor, sehingga mendorong peningkatan produksi yang turun dalam beberapa tahun terakhir ini,“ ujar Ir. Hanan yang lama menangani PPI Tanjung Luar.

Baca Juga: Teknologi Atraktor Solusi Nelayan Cumi-cumi Hadapi Degradasi Habitat
Kreasi Peneliti IPB University Ciptakan Makanan Super

Praktek pembuatan atraktor cumi-cumi dilakukan dengan memanfaatkan drum bekas yang banyak tersedia di Kecamatan Keruak Lombok Timur, sedangkan tali temalinya terbuat dari bambu. 

“Nah, apa yang dibutuhkan untuk atraktor sudah ada di sekitar kita,“ ujar Dr Didik.   

Menurutnya hal ini perlu dilakukan untuk memulihkan stok sumber daya cumi-cumi sekaligus mengkonservasi lingkungan bawah air perairan kita, dan hasil tangkapan cumi nelayan Tanjung Luar juga meningkat.

Video Terkait