Mengenal Ikan Baung, ‘Nokturnal Air Tawar’ yang Punya Kumis Seperti Lele

Ilustrasi ikan baung (Wikimedia Commons)

Editor: Tanti Malasari - Senin, 18 Juli 2022 | 16:20 WIB

Sariagri - Ikan baung adalah salah satu ikan lokal yang sedang dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan, melalui Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam. Bukan tanpa alasan, sebab populasi ikan ini terus menurun dan sulit ditemukan di pasaran.

Padahal ikan ini dianggap memiliki nilai jual tinggi dan cukup menjanjikan dibanding ikan tawar lainnya. Rasa ikan lokal ini sangat lezat dan sering diolah menjadi berbagai menu olahan kuliner, seperti pindang baung yang menjadi favorit masyarakat Sumatera di Lampung, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.

Spesifikasi ikan baung

Sekilas ikan dengan nama latin Bagrus nemurus ini tampak seperti ikan lele. Hal ini dikarenakan baung merupakan anggota genus Hemibargus dari keluarga Bagridae. Ikan ini masih sekerabat dengan ikan lele, sehingga keduanya memiliki ciri fisik yang hampir serupa.

Ikan ini cukup mudah dikenali, sebab baung mempunyai bentuk tubuh panjang, licin, dan tidak bersisik, kepalanya kasar dan depres dengan tiga pasang sungut di sekeliling mulut dan sepasang di lubang pemafasan, sedangkan panjang sungut rahang atas hampir mencapai sirip dubur.

Pada sirip dada dan sirip punggung, masing-masing terdapat duri patil. Baung juga mempunyai sirip lemak (adipose fin) di belakang sirip punggung yang kira-kira sama dengan sirip dubur.

Sirip ekor berpinggiran tegak dan ujung ekor bagian atas memanjang menyerupai bentuk sungut. Bagian atas kepala dan badan berwama coklat kehitam-hitaman sampai pertengahan sisi badan dan memutih ke arah bagian bawah

Habitat dan penyebaran

Seperti yang diketahui distribusi ekologis ikan baung sungai, meliputi perairan air tawar, seperti sungai, dan danau, juga terdapat di perairan payau muara sungai dan pada umumnya ditemukan di daerah banjir.

Di Indonesia, baung banyak hidup di perairan pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Baung berhasil hidup dalam kolam yang dasarnya berupa pasir dan batuan (Madsuly, 1977).

Di Jawa Barat, ikan ini banyak ditemukan di sungai Cidurian dan Jasinga Bogor yang airnya cukup dangkal (45 cm) dengan kecerahan 100 %.

Selain di Indonesia, baung juga tersebar di beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Ikan ini juga ditemukan di kawasan Cina bagian selatan dan India.

Kebiasaan Makan

Umumnya ikan ini mempunyai kemampuan beradaptasi tinggi terhadap makanan dan pemanfaatan makanan yang tersedia di suatu perairan.

Namun menurut hasil dari beberapa penelitian menunjukan bahwa baung termasuk jenis ikan omnivora dengan susunan makanan yang terdiri atas ikan, insekta, udang, annelida, nematoda, detritus, sisa-sisa tumbuhan, atau organik lainnya.

Di alam liar, baung termasuk jenis ikan omnivora yang memakan segala. Beberapa makanan ikan baung adalah udang kecil, remis, ikan yang ukurannya lebih kecil, serangga, moluska, dan rumput.

Sehingga jika ingin mancing ikan baung, kamu harus siapkan umpan ikan baung, berupa anak ikan, udang, remis, insekta, moluska, dan rumput.

Proses reproduksi

Perkembangbiakan ikan baung dilakukan dengan cara memijah, yaitu melepaskan telur dan sperma. Berdasarkan laporan alawi et.al. (1990), proses ini berlangsung pada bulan Oktober sampai bulan Desember.

Mengapa demikian, sebab pada bulan ini biasanya sudah memasuki musim hujan. Ikan-ikan yang akan memijah umumnya mencari kawasan yang aman dan banyak makanan.

Umumnya, mereka mencari kawasan yang aman dan memiliki banyak cadangan makanan saat memijah, seperti rerumputan yang digenangi air.

Demikian juga jenis baung, yang mencari tepat perlindungan dan membuat sarang bila melakukan pemijahan (Bardach et.al., 1972).

Baca Juga: Mengenal Ikan Baung, ‘Nokturnal Air Tawar’ yang Punya Kumis Seperti Lele
Yuk Kenali Ikan Tenggiri, Ikan Laut yang Kaya Gizi dan Banyak Dikonsumsi

Memiliki banyak nama

Ikan ini memiliki banyak nama di setiap daerah, seperti misalnya di daerah Karawang, ikan ini dikenal dengan nama ikan tagih atau senggal.

Sedangkan di Jakarta dan Malaysia dikenal sebagai ikan bawon, senggal, singgah, dan singah (Sunda/Jawa Barat); tageh (Jawa); boon (Serawak); niken, siken, tiken, tiken-bato, baungputih, dan kendinya (Kalimantan Tengah); baong (Sumatra) (Weber and de Beaufort, 1965; Djajadiredja et al., 1977).

Video Terkait