Program Konservasi Penyu di Qatar Libatkan Anak-Anak

Ilustrasi penyu hijau. (Pixabay)

Editor: Putri - Senin, 11 Juli 2022 | 21:00 WIB

Sariagri - Pemerintah Qatar melibatkan anak-anak untuk menyelamatkan spesies penyu yang terancam punah. Berkat program tersebut, puluhan ribu penyu berhasil dilepasliarkan ke habitat mereka.

Di sebuah pantai di timur laut Qatar, Lolwa seorang bocah berusia enam tahun melambaikan tangan kepada dua bayi penyu sisik yang dilepasliarkan. Spesies penyu sisik memiliki peluang satu banding seribu untuk bertahan hidup hingga dewasa.

Pemangsa, perubahan iklim, jaring ikan, dan polusi laut semuanya berkontribusi pada klasifikasi makhluk berparuh sempit ini sebagai "sangat terancam punah" pada 1996.

Mengutip Arab News, Senin (11/7/2022), program konservasi penyu di Qatar berharap untuk menghidupkan kembali spesies yang terancam tersebut. Mereka melepaskan ribuan tukik ke laut setiap tahun, dengan bantuan anak-anak kecil.

“Sebagai orang dewasa, kami agak di luar harapan,” kata Clara Lim, perwakilan dari museum anak-anak Dadu yang mengorganisir inisiatif untuk anak-anak.

"Tetapi anak-anak memiliki kekuatan untuk benar-benar menginternalisasi semua hal yang mereka pelajari dan mereka menjadikan kebiasaan ini sebagai bagian dari hidup mereka," tambahnya.

Program Konservasi Qatar diluncurkan sejak 2003 dan dalam lima tahun terakhir telah mengirim sekitar 30.000 tukik ke laut, termasuk 9.000 pada 2020 ketika pandemi mengurangi jumlah pengunjung ke perairan.

Antara April dan Juni, para pemerhati lingkungan Qatar mengawasi penyu sisik betina yang tiba di pantai Fuwairit untuk menaruh telur. Mereka mengukurnya, memberikan perawatan jika diperlukan, dan terkadang memasang alat pelacak.

Sarang dipindahkan dari bawah pasir di pantai utama dan ditempatkan di bawah tenda untuk melindungi telur dari pasang surut dan pemangsa. Kemudian 60 hari kemudian, pada saat menetas, para tukik dilepaskan ke laut.

"Yang baik dan sehat kami lepaskan ke laut," kata Mohamed Seyd Ahmed, pakar satwa liar di Kementerian Lingkungan Qatar.

"Yang kecil atau lainnya kami taruh di kolam untuk memungkinkan mereka tumbuh lebih kuat terlebih dahulu," tambahnya.

Ahmed mengatakan, penyu bertindak sebagai vakum, memakan ubur-ubur dan lamun, sehingga penurunan jumlah penyu memiliki efek pada semua kehidupan laut.

Pada suatu malam di bulan Juni, Lolwa bergabung dengan Shaikha yang berusia delapan tahun dan Abdullah yang berusia sembilan tahun untuk melepaskan tukik ke laut.

Kontak dekat dengan penyu menciptakan ikatan antara tukik dan anak-anak, yang dengan penuh kasih sayang memberi nama bayi kecil itu Sassa dan Blueberry.

Seperti yang diharapkan, sikap sudah berubah pada generasi muda ini. “Kami tidak boleh membuang plastik ke laut karena mereka (penyu-penyu) akan tersangkut di plastik,” kata Shaikha. Perburuan liar dan kurangnya ruang juga mengancam hewan laut ini yang mencapai usia dewasa pada usia 25 dan hidup rata-rata 50 tahun.

Baca Juga: Program Konservasi Penyu di Qatar Libatkan Anak-Anak
Prihatin Telur Penyu Banyak Diburu, Warga Senggigi Bangun Tempat Konservasi



Karena penyu secara naluriah kembali bertelur di pantai tempat mereka dilahirkan, keberhasilan program dapat diukur. Tetapi baru bisa terlihat pada 2028, ketika tukik pertama yang dilepas pada 2003 kembali untuk bertelur.

Tetapi dengan 97 sarang, masing-masing berisi antara 80 dan 120 telur, dibandingkan dengan 15 pada 2012, sudah ada alasan untuk optimis.

“Statistik menunjukkan bahwa ada lebih banyak penyu yang datang untuk berkembang biak di sini,” tukas Thierry Lesales, presiden Qatar Natural History Group.

Video Terkait